07 Juli 2021

 *King’s Sword*

*Tanggal 7 Juli 2021*
Hari: Rabu

Bacaan Alkitab Setahun:
Ef 3
Ayb 32-33

*WHY NOT ME?*

_“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”_ Matius 16:24
Sering sekali kita mendengar kisah orang yang mengalami sebuah penderitaan, kemudian di ambang puncak penderitaan yang ia alami, ia kemudian bertanya pada Tuhan, “Mengapa harus saya yang mengalami penderitaan ini?”, “Ini tidak adil!, mengapa saya (dan bukan dia)?” Bahkan ketika tantangan dalam kehidupan semakin berat, sebagian orang cenderung membandingkan tantangan yang ia alami dengan tantangan yang orang lain hadapi, sehingga ia mengambil kesimpulan dan bertanya, mengapa tantangan yang kuhadapi lebih berat dibanding dengan yang orang lain hadapi? Apakah Tuhan tidak adil?
Dalam sebuah pemberitaan setelah sebuah kecelakaan besar terjadi, sebuah kesaksian dari seorang yang selamat menekankan bahwa Tuhan begitu mencintai dirinya sehingga ia bisa selamat, pertanyaannya apakah Tuhan juga tidak mencintai orang-orang lain yang menderita dalam kecelakaan itu? Gagasan bahwa Tuhan memberkahi hanya orang-orang yang baik dan menghukum orang-orang yang jahat langsung mengarah pada pertanyaan, “Kalau begitu apa yang dilakukan Yesus sehingga Ia mati muda secara begitu menyakitkan?” Tuhan jauh lebih besar daripada pemahaman kita mengenai baik dan buruk, dan mempunyai rencana abadi yang tidak bisa kita pahami secara total.
Mengalami musibah dan penderitaan tidak selalu identik dengan Allah tidak mengasihimu. Bahkan hebatnya, Yesus justru memilih menderita demi menggenapi rencana Allah. Dibanding mempertanyakan “why me? “ saat mengalami tantangan berat, musibah, atau hal yang tidak menyenangkan lainnya, mari kita belajar dari Daud, justru ia bertanya _“why not me?”_.
Ketika ada tantangan berat bagi bangsa Israel yang saat itu ketakutan menghadapi Goliat yang menghina barisan dari Allah yang hidup (1 Samuel 17), justru Daud maju. “Tidak seorang pun yang bersedia pergi ke luar sana. Mengapa bukan aku?” kata Daud. Ada inisiatif dari Daud, ada inisiatif Yesus untuk menyelamatkan manusia, meskipun sangat menderita – bahkan mati sengsara.
Ada inisiatif dari warga Kerajaan untuk justru berkata “Ini aku, Utuslah aku Tuhan!” meskipun menghadapi kesulitan dan penderitaan. Ada keberanian untuk menghadapi tantangan, ada keberanian untuk menghadapi penderitaan, ada keberanian untuk menghadapi ketidaknyamanan. Sebab kita hidup untuk memuliakan Kristus, sehingga penderitaan apapun di dalam Dia akan bernilai kekal, Tuhan memperhitungkannya. Justru jika belum pernah menderita karena pikul salib, apakah sungguh kita sedang mengikuti Kristus? (JB)
Questions:
1. Dari pengalaman hidup Anda, ketika menghadapi sebuah peristiwa, apakah Anda bertanya, “Mengapa aku Tuhan?” Jelaskan.
2. Apa respon Anda ketika menghadapi tantangan dalam pelayanan dan pekerjaan?
Values:
Mari kita belajar untuk bertanya _“why not me?”_ dan melihat hal indah yang Tuhan sudah sediakan di balik tantangan tersebut.
Kingdom quote:
_Sebab kita hidup untuk memuliakan Kristus, sehingga penderitaan apapun di dalam Dia akan bernilai kekal._

06 Juli 2021

 *King’s Sword*

*Tanggal: 6 Juli 2021*
Hari: Selasa
Bacaan Alkitab Setahun:
Ef 2
Ayb 30-31


*PUJILAH TUHAN*
_“Pujilah TUHAN, hai segala bangsa; megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab, kebaikan-Nya besar kepada kita, dan kesetiaan TUHAN selama-lamanya. Haleluya!”_ (AYT - Mazmur 117:1-2).
Mazmur adalah kitab yang mengajarkan kita bagaimana cara kita memuji dan menyembah Allah kita. Kita dapat belajar banyak hal dari pemazmur yang selalu merindukan untuk memberikan pujian kepada Tuhan. Mazmur 117 ini pasal yang terpendek dari seluruh mazmur namun mengungkapkan kedalaman di dalam pujian kepada Tuhan. Ayat 1 pemazmur memberikan perintah kepada umat untuk memuji Tuhan bahkan itu diperintahkan kepada segala bangsa juga untuk memegahkan Dia dan kepada segala suku bangsa. Lalu di ayat 2 di berikan alasan kenapa bangsa dan suku bangsa wajib memuji dan memegahkan Tuhan yaitu sebab kebaikannya besar dan kesetiaan Tuhan selama-lamanya.
Kalau kita baca kitab mazmur ini maka kita harus paham bahwa pemazmur menuliskan mazmurnya dalam zaman Perjanjian Lama yang belum memahami akan karya penebusan Anak Allah. Posisinya jelas berbeda dengan posisi kita yang hidup di zaman sekarang. Namun meskipun demikian pemazmur mengalami kelimpahan akan kebaikan Tuhan. Bukankah kita jauh lebih memahami dan lebih mengerti akan kebaikan Tuhan karena kita sadar bahwa puncak kebaikan Tuhan dinyatakan ketika AnakNya berkorban dan mati di kayu salib buat manusia.
Jadi bagaimana seharusnya kita membaca kitab Mazmur ini termasuk di pasal 117 ini? Bacalah dalam bingkai kebenaran dalam konteks Perjanjian Baru. Jadi puji dan sembahlah Allah kita karena alasan yang
hebat
yaitu Yesus Kristus yang mengasihi kita dan telah berkorban untuk kita. Tidak ada motivasi kehidupan yang lebih kuat daripada ingatan dan merenungkan akan kebaikan Tuhan di kayu salib. Meskipun pemazmur belum melihat akan pernyataan Yesus Kristus namun kebaikan Allah telah ia rasakan dan ia hidupi.
Kiranya kebaikan Allah kita di dalam Yesus Kristus senantiasa menguatkan dan memotivasi kita untuk memuji dan menyembah Dia dalam berbagai situasi yang kita hadapi. (DH)
Questions:
1. Berikanlah alasan penting mengapa kita harus memuji Tuhan.
2. Mengapa kita harus tetap memuji Tuhan bahkan dalam keadaan kita yang kurang baik?
Values:
Pujian adalah gaya hidup warga Kerajaan Allah.
Kingdom Quote:
_Pujian adalah kekuatan orang benar._++

05 Juli 2021

 

HATI BAPA

"Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya,
demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia."

Mazmur 103:13

Sejarah umat manusia dimulai ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, lalu menempatkan mereka di taman di Eden. Penciptaan ini memiliki nilai yang istimewa dalam kehidupan manusia, karena:

  • Dijelaskan dalam Kejadian 1:27 Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya. Hanya manusia yang diciptakan menurut gambar Allah dan kemuliaan-Nya, melebihi ciptaan yang lain dan menyebabkan manusia menjadi makhluk “pribadi” seperti pencipta-Nya.

  • Kejadian 1:26 dan Kejadian 2:7 menjelaskan manusia memiliki keistimewaan dibandingkan makhluk ciptaan lain, karena bukan sekedar diciptakan; tetapi dijadikan, dibentuk bahkan dihembusi dengan nafas hidup (Ibr: Ruah) ke dalam hidungnya sehingga debu tanah itu berubah menjadi daging di mana di dalamnya terdapat jiwa dan roh.

  • Manusia diciptakan untuk kekekalan, bukan untuk sementara. Hal ini tidak dimiliki oleh ciptaan lain mana pun. Semua ciptaan akan mati dan “hilang”, tetapi manusia memiliki kekekalan dalam hidupnya.

  • Manusia diciptakan di hari keenam yang merupakan hari terakhir penciptaan di mana semua fasilitas yang dibutuhkan untuk kehidupannya sudah tersedia secara sempurna. Bahkan manusia ditempatkan dalam taman di Eden (Kejadian 2:8), sebuah taman yang Allah sediakan untuk menopang kehidupan manusia secara berlimpah.

  • Allah memberikan kuasa dan mandat kepada manusia bukan hanya untuk memenuhi bumi tetapi juga menguasai semua makhluk ciptaan lainnya (Kejadian 1:28-29). Kuasa dan mandat ini diberikan dalam berkat ilahi yang menghasilkan kemampuan yang melebihi semua ciptaan lainnya.

  • Penilaian Allah ketika manusia selesai diciptakan adalah ‘sungguh amat baik’, sedangkan ciptaan-ciptaan sebelumnya hanya “baik”. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah kesempurnaan ciptaan Allah yang menjadi tujuan utama dalam proses penciptaan itu.

  • Bahkan setelah manusia diciptakan, Allah terus mengunjungi manusia untuk membangun hubungan yang istimewa (Kejadian 3:8).

Tuhan Allah memberikan ‘pilihan bebas’ kepada manusia dengan tujuan manusia dapat memilih dengan kehendaknya sendiri untuk mengasihi dan taat kepada pencipta-Nya serta menjadi kesenangan bagi-Nya (Amsal 8:31). Allah memberikan segala yang terbaik untuk menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada manusia. Allah menghendaki sebuah hubungan yang istimewa dengan manusia, bukan hanya hubungan Pencipta dan Ciptaan, tetapi lebih dari itu sebuah hubungan yang digambarkan seperti seorang bapa dan anak-anaknya (Mazmur 103:13).

Hubungan Allah dan manusia yang disamakan dengan hubungan bapa dan anak diajarkan Tuhan Yesus sendiri untuk memberikan pengertian baru di dalam Perjanjian Baru yang merupakan hasil dari karya penebusan-Nya di kayu Salib. Tuhan Yesus mengajarkan doa yang dikenal dengan “Doa Bapa Kami” sebuah doa yang dimulai dengan menyebut Allah sebagai “Bapa kami yang di Sorga” (Matius 6:9).

  • Dalam doanya Ia juga memanggil Allah dengan sebutan Bapa (Matius 11:25-27).
  • Dalam pengajaran-Nya Ia memakai perumpamaan bapa dan anak, seperti 2 (dua) perumpamaan anak sulung dan anak bungsu dengan versi yang berbeda.

Inilah hubungan yang Allah ingin nyatakan kepada manusia ciptaan-Nya. Tetapi karena pemberontakan dan pelanggaran perintah Allah oleh manusia, maka hubungan ini menjadi rusak. Si jahat memperdaya manusia dengan tipuan yang membuat seolah-olah Allah berbohong dan tidak mau tersaingi oleh manusia. Iblis menyatakan bahwa manusia tidak akan mati pada waktu makan buah pengetahuan yang baik dan jahat tetapi justru akan menjadi seperti Allah. Potensi untuk menjadi seperti Allah adalah sebuah hal yang membuat Hawa tertarik untuk memakan buah itu, sekalipun mengerti segala konsekuensi yang harus ditanggung dan hasilnya justru menghancurkan hubungan yang baik antara Allah dan manusia.

Demikian juga hari-hari ini, Iblis terus merusak gambaran Bapa Sorgawi dengan cara merusak gambaran bapa jasmani agar manusia kehilangan hubungan yang istimewa ini, yaitu hubungan bapa-anak dengan Bapa Sorgawi. Kesalahan yang dilakukan oleh bapa-bapa jasmani terhadap anak-anaknya merusak gambaran tentang Bapa Sorgawi dalam pikiran dan perasaan banyak orang. Sekalipun mereka mengaku percaya Tuhan tetapi ada keraguan dalam hati tentang kasih Tuhan yang besar dan hubungan yang baik yang seharusnya ada antara Allah dan umat-Nya. Kesalahan dan tindakan bapa-bapa jasmani yang merusak hubungan bapa-anak, seperti:

  • Penggunaan otoritas dengan sewenang-wenang (otoriter) dan memberikan kasih bersyarat kepada anak-anaknya. Akibatnya anak-anaknya akan sukar menerima dan percaya akan kasih Bapa Sorgawi yang tak bersyarat.

  • Ayah yang suka berbohong dan tidak menepati janji karena alasan-alasan yang dibuat-buat akan membuat anak-anaknya tidak dapat mempercayai janji-janji Bapa Sorgawi.

  • Ayah yang tidak menyediakan waktu yang cukup dan berkualitas untuk anak-anaknya membuat anak-anaknya merasa tidak dihargai dan tidak dapat mempercayai kasih Bapa.

Sebuah hasil survey yang dilakukan di kalangan generasi muda Gereja Bethel Indonesia menyatakan bahwa anak-anak yang menghadapi masalah:

  • hanya 30% yang bercerita kepada orang tuanya, sedangkan
  • 59% lainnya bercerita kepada orang lain, dan
  • 11% memendam masalah itu sendiri.

12,5% kaum muda GBI mengakui bahwa mereka memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua dan 43% tidak ingin memiliki pasangan hidup seperti orangtuanya. Anak yang orangtuanya bercerai memiliki potensi 2 kali lipat lebih besar mengalami hubungan yang buruk dengan orangtuanya dan berkeinginan untuk bunuh diri dibandingkan dengan anak yang orangtuanya tidak bercerai. Pengakuan dari mereka yang memiliki hubungan yang buruk diakibatkan karena tersakiti oleh kata-kata yang diucapkan orang tua, mendapatkan pukulan fisik, merasa orang tua tidak memiliki waktu yang cukup bagi dirinya dan tidak bisa menjadi teladan.
Dalam praktek pelayanan, didapatkan kenyataan bahwa tidak semua orang yang bisa berkata ‘Tuhan’ juga bisa berkata ‘Bapa’. Ada keraguan bahkan penolakan dari jemaat Tuhan untuk menyebut ‘Bapa’ karena pengalaman-pengalaman yang buruk dengan orangtuanya. Hal ini menyebabkan jemaat tersebut tidak dapat memiliki hubungan yang dekat dengan Bapa Sorgawi; tidak dapat mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati bahkan tidak dapat mempercayakan hidupnya ke dalam tangan Tuhan melalui iman.

Alkitab memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa Allah adalah Bapa yang sangat mengasihi manusia. Kasih-Nya yang utama dinyatakan dengan pengorbanan putra-Nya, Yesus Kristus, di kayu salib untuk menebus dosa manusia dan menyediakan keselamatan yang kekal bagi umat manusia. Harga yang sangat mahal dibayar lunas (1 Korintus 6:20; 7:23) karena kasih Allah yang begitu besar kepada umat manusia. Sekalipun berdosa, Tuhan tidak pernah menolak orang yang mau datang kepada-nya (Yohanes 6:37, 39). Bahkan Tuhan Yesus mati ketika manusia masih berdosa dan menjadi seteru-Nya (Roma 5:8-10).
Dalam proses penyaliban, ketika tergantung di kayu salib, Tuhan Yesus berteriak “Eli, Eli, lama sabakhtani” (Matius 27:46) yang artinya “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku”. Tuhan Yesus ditinggalkan Bapa-Nya supaya kita semua bisa diperdamaikan dengan Bapa Sorgawi dan mengalami pemulihan dalam hubungan Kasih Bapa.

Kasih Bapa Sorgawi dinyatakan melalui Yesus yang dalam Yohanes 10 menyatakan:

  • Ia rela menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (ayat 11, 15),
  • Ia mengenal domba-domba-Nya (ayat 14), Ia menuntun domba-domba lain (bangsa-bangsa di luar bangsa Yahudi) masuk ke dalam keselamatan (ayat 16),
  • Ia memberikan hidup yang kekal kepada domba-domba-Nya dan tidak membiarkan domba-domba-Nya direbut oleh siapapun (ayat 28, 29).

Segala pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna datang dari Bapa segala terang, yaitu Bapa Sorgawi yang sangat mengasihi umat-Nya. (Yakobus 1:17)

Matius 7:11 berkata,
“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Catatan dalam Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan menerangkan bahwa Kristus menjanjikan bahwa Bapa di sorga tidak akan mengecewakan anak-anak-Nya. Bapa bahkan mengasihi lebih dari seorang bapa jasmani dan mampu memberikan yang baik kepada anak-anak-Nya. Yang terbaik adalah Bapa memberikan Roh-Nya sendiri kepada anak-anak-Nya sebagai Penasehat dan Penolong (Lukas 11:13; Yohanes 14:16-18).

Amsal 14:26:
“Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.”

Bapa memberikan perlindungan kepada anak-anak-Nya untuk bisa hidup sesuai dengan rencana-Nya dan mencapai kesempurnaan dalam panggilan-Nya.

Dengan demikian, selayaknyalah kita percaya bahwa Bapa Sorgawi adalah Bapa yang sangat mengasihi umat-Nya. Umat Allah seharusnya mengalami kasih Bapa ini melalui perjumpaan pribadi dan kehidupan yang berjalan bersama Dia. Mengalami janji-janji Allah dan melihat kesetiaan Allah terbukti membuat kita bisa mempercayai Dia dan mempercayakan hidup kita kepada-nya. Bapa memberikan Roh Kudus-Nya agar kita percaya akan kasih Bapa dan mampu untuk mengampuni orang-orang yang pernah merusak gambaran bapa yang baik serta memulihkan kondisi hati kita menjadi baru untuk bisa mengalami kasih Bapa yang sempurna. Amin. (BM)


 *King’s Sword*

*Tanggal: 5 Juli 2021*
Hari: Senin

Bacaan Alkitab Setahun:
Ef 1
Ayb 28-29

*THE HIDDEN PEACE*
_“Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”_ Lukas 19:41-42
Firman Tuhan sedang menggambarkan sebuah situasi ketika Yesus akan masuk Yerusalem yang berujung pada peristiwa penyalibanNya. Yesus digambarkan begitu emosional hingga menangis. Mengapa? Apakah Yesus sedang “Baper” karena mengetahui bahwa dirinya akan disalib? Yesus bukan menangisi dirinya (_Self Pity_) melainkan menangisi umatNya di Yerusalem, Mengapa? Karena mereka tidak mengetahui hal yang sangat penting yaitu Damai Sejahtera Tuhan dimana Yesus sesuai nubuatan Nabi Yesaya disebutkan sebagai Raja Damai (_Prince of Peace_) -- Yes 9:5, padahal kata Yerusalem bermakna _Teaching of Peace_ (Mengajarkan Damai Sejahtera).
Mengapa Damai Sejahtera itu penting? Damai Sejahtera adalah kebutuhan batin, emosional paling mendasar dari manusia. Dalam kehidupan kita boleh miliki apapun, kekayaan, kesuksesan, kepopuleran tetapi tanpa damai sejahtera, maka semuanya akan dianggap kesia-siaan atau ketidakbahagiaan. Itu sebabnya Yesus ingin kita memiliki damai sejahtera tersebut. _“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”._ (Yoh 14:27)
Dunia mencoba untuk menawarkan atau memberikan damai sejahtera, melalui berbagai hiburan, kelimpahan materi, keindahan, bahkan melalui ritual-riutal, tetapi damai sejahtera sejati itu bukanlah produk manusia/dunia ini, karena damai sejahtera itu berasal dari Allah (Rm 15:33), melekat dalam pribadi Kristus sebagai Raja, dan dimanifestasikan melalui karya Roh Kudus dalam lingkup KerajaanNya.
Firman Tuhan dalam Rm 14:17 menyebutkan bahwa _“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus,”_ hal ini artinya damai sejahtera justru mengalir dari sikap ketundukan kita kepada kehendak KerajaanNya, dengan menjadikan Tuhan sebagai Raja atau penguasa hidup kita. Secara sederhana hal itu bisa berarti bahwa salah satu penyebab kita kehilangan kesadaran akan damai sejahtera-Nya adalah saat kita mulai berusaha menjadi Tuhan dan Raja atas hidup dan situasi kita sendiri. Jadi hari-hari ini bagaimana kita menempatkan posisi Tuhan terutama dalam situasi yang sulit ini.
Apakah kita mudah menjadi marah, atau kecewa kepada Tuhan dan kemudian berusaha untuk mengendalikan hidup dan perasaan kita sendiri? Atau kita justru datang, berdoa dan berseru kepadaNya agar mata kita terbuka, dan melihat Raja Damai yaitu Yesus Kristus itu di dalam seluruh situasi kita. Mana yang Anda pilih? (HA)
Questions:
1. Bagaimana Anda memperoleh damai sejahtera sejati?
2. Apakah damai sejahtera itu bisa hilang? Mengapa?
Values:
Damai sejahtera justru mengalir dari sikap ketundukan kita kepada kehendak Kerajaan-Nya, dengan menjadikan Tuhan sebagai Raja atau penguasa hidup kita.
Kingdom Quote:
_Milikilah ALLAH di dalam Yesus, maka damai sejahtera-Nya juga menjadi bagian hidup kita dalam situasi apapun._

03 Juli 2021

 *King’s Sword*

*Tanggal: 3 Juli 2021*
Hari: Sabtu
Bacaan Alkitab Setahun:
Gal 5
Ayb 22-24

*MENJADI PRIA SEJATI*
_“Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”_ 1 Korintus 16:13-14
Seorang Pria dipanggil untuk menjalankan banyak peran, bertumbuh dari seorang anak laki-laki, menjadi kakak, suami, ayah, paman dan kakek. Seorang pria juga seorang kekasih, pemimpin, pelindung dan pencari nafkah. Setiap peran tersebut menuntut sebuah kualitas kedewasaan yang Rasul Paulus tuliskan bersikap sebagai laki-laki. Kedewasaan seorang pria tidak diukur dari penampilan, kekuatan secara fisik atau keberanian menghadapi tantangan tetapi lebih kepada karakter dan tanggung jawab dalam perannya sebagai seorang pria. Sebuah ungkapan mengatakan bahwa seorang pria jenius dikagumi, pria kaya menimbulkan iri hati, pria berkuasa ditakuti, tetapi hanya pria yang berkarakter dan bertanggung jawab yang dapat dipercaya.
Banyak pria yang berhasil di dalam berbagai bidang, sebagai presiden direktur, dokter, pengacara, teknisi komputer, atau pemain yang handal di lapangan golf, atau yang lain sebagainya. Boleh saja mereka berhasil dalam pelayanan, menjadi pengkhotbah atau hamba Tuhan, akan tetapi banyak yang gagal di dalam rumah tangga sendiri. Kegagalan seorang pria dalam rumah tangganya sendiri adalah kegagalan bertanggung jawab dalam perannya sebagai suami dan ayah. Sekalipun berhasil di dalam berbagai bidang tetapi jika gagal sebagai suami atau ayah di depan mata Tuhan tetaplah gagal dan tidak ada keberhasilan lain yang sanggup menutupi kegagalan tersebut. Masalah utama dalam masyarakat dewasa ini adalah pria-pria yang lalai dan para pria yang telah gagal melaksanakan dua tanggung jawab utama sebagai suami dan sebagai ayah. Keduanya adalah sebuah landasan yang penting dan utama di mana sebuah rumah tangga yang benar-benar harmonis dan bahagia bisa dibangun.
Banyak buku tentang keluarga yang bisa dipelajari namun jika belum mengerti dan memahami dua peran sebagai suami dan sebagai ayah maka mustahil dapat membangun sebuah keluarga yang benar-benar berhasil. Seorang pria sejati adalah seorang pria yang mampu melaksanakan tanggung jawab sebagai suami dan ayah di dalam keluarganya. Untuk itu mintalah kepada Tuhan otoritas sebagai seorang suami dan ayah serta ambil posisi dan tanggung jawab tersebut sebagai kepala rumah tangga. Otoritas sebagai suami dan ayah bergantung pada penundukan diri kita kepada Yesus, dan hanya otoritas sejati pemberian Tuhan yang bisa membuat kita menjadi kepala keluarga yang efektif. Minta hikmat Tuhan untuk kita melangkah dan memperbaiki setiap kekurangan dan kelemahan kita pada tugas-tugas sebagai kepala rumah tangga, yaitu tugas sebagai imam, nabi dan raja.
Berikan seluruh waktu yang dibutuhkan untuk tugas kita sebagai suami dan ayah di dalam rumah tangga. Salah satu ukuran yang paling pasti untuk prioritas yang benar adalah cara kita membagi waktu kita. Hubungan kita dengan Tuhan adalah priortas yang paling utama, namun sebagai seorang ayah, kita perlu menanyai diri sendiri apakah kita telah menempatkan keluarga kita sebagai prioritas utama setelah hubungan kita dengan Tuhan? Apakah kita dapat menciptakan atmosfir yang membuat anak-anak merasa diterima dan aman? (RSN)
Questions:
1. Bagaimana menjadi seorang pria sejati?
2. Apakah tanggung jawab kita sebagai seorang pria?
Values:
Apapun peran kita di dalam keluarga, dituntut kedewasaan dan tanggung jawab sehingga kita dapat dipercaya.
Kingdom Quote:
_Seorang pria sejati mampu melaksanakan tanggung jawab sebagai suami dan ayah di dalam keluarganya._

02 Juli 2021

 *King’s Sword*

*Tanggal: 2 Juli 2021*
Hari: Jumat

Bacaan Alkitab Setahun:
Gal 4
Ayb 20-21

*STRONG*

_”Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!”_ 1 Korintus 16:13
_Praise GOD_. Waktu berjalan dengan cepat dan kita sudah memasuki bulan Juli 2021. Tema renungan bulan Juni 2021 adalah strong. Kata _strong_ yang merupakan kata sifat dalam _Merriam Webster Dictionary_ memiliki arti: 1) having or marked by great physical power_ (memiliki atau ditandai dengan kekuatan fisik yang besar); 2) _having moral or intellectual power_ (memiliki kekuatan moral atau intelektual); 3) _having great resources as wealth or talent_ (memiliki sumber daya yang besar sebagai kekayaan atau bakat). Dalam arti sederhana kata _strong_ memiliki arti mempunyai kekuatan fisik, moral dan intelektual serta sumber daya yang besar. TUHAN sudah memberikan kepada kita kekuatan yang istimewa kepada kita masing-masing. TUHAN mau kita memaksimalkan dan tidak menyalahgunakan setiap kekuatan yang diberikan dan dipercayakan kepada kita. Dalam _strong_ kita dapat belajar beberapa hal.
Yang pertama, sumber kekuatan kita adalah dari TUHAN. Setiap orang memiliki kekuatan istimewa yang berbeda antara satu dengan lainnya. Sumber kekuatan ada 3, yaitu dari TUHAN, iblis dan diri sendiri. Yer 17:5 berkata, _'Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!'_ Dari hal ini kita semakin sadar bahwa TUHAN tak mau kita mengandalkan manusia dan kekuatan sendiri. TUHAN juga benci orang yang mengandalkan iblis, sebab iblis adalah musuh TUHAN. Yer 17:7 berkata, _'Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!’_ Sadarilah bahwa TUHAN mau kita benar-benar mengandalkan TUHAN sebagi sumber kekuatan kita. TUHAN mau kita percaya dan berharap kepada TUHAN. Kita akan mudah kecewa dan pahit hati jika kita berpengharapan kepada manusia. Mari mulai tetapkan hati untuk selalu mengandalkan kekuatan TUHAN setiap hari.
Yang kedua, maksimalkan kekuatan kita. Apa maksud dari memaksimalkan kekuatan kita? Arti memaksimalkan kekuatan kita di sini adalah memaksimalkan kekuatan istimewa yang telah diberikan dan dipercayakan kepada kita. Jadi bukan memaksimalkan dari kekuatan pribadi kita. TUHAN mau kita memaksimalkan kekuatan kita untuk membangun Kerajaan ALLAH.
Yang ketiga, jangan menyalahgunakan kekuatan kita. Kekuatan yang kita miliki bukan untuk disalahgunakan. Kekuatan yang kita miliki hendaknya dipergunakan untuk menolong orang lain menemukan tujuan hidup mereka. Sesungguhnya TUHAN sangat memperhatikan sikap hati kita saat kita menolong orang lain. Kekuatan yang kita miliki bukan untuk memperdayakan orang lain namun untuk memberdayakan orang lain. (DW)
Question:
1. Siapakah sumber kekuatan kita?
2. Bagaimana cara memaksimalkan kekuatan kita?
Values:
Seorang Warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang mau maju dan mengembangkan tujuan hidupnya.
Kingdom Quote:
_Kekuatan sejati yang kita miliki berasal dari TUHAN._

01 Juli 2021

 King's Sword

*Tanggal 01 juli 2021*
Hari: Kamis

Bacaan Alkitab Setahun:
Gal 3
Ayb 17-19

" RENUNGAN Yeremia 32:17"
Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!
Tiada suatu apapun yg mustahil bagi Tuhan, inilah jaminan yg membuat kita tdk takut menghadapi masa2 sukar diakhir jaman.
Ada bny tantangan terjadi didepan kita saat ini, tetapi kita sbg anak Tuhan jgn pernah berkecil hati.
Secara akal manusia mungkin kita sdh tdk bisa membuka jalan unt kita lalui, tetapi sadarilah bukan bagi Tuhan, sebab semuanya mungkin & tdk ada hal mustahil.
Apapun kenyataan hidup yg kita alami saat ini, tdk akan mempengaruhi kedahsyatan Tuhan unt memulihkan & membuka jalan atas masalah kita.
1.KUASA TUHAN
Tuhan yg kita sembah adlah Tuhan yg punya kuasa super power menciptakan langit & bumi.
Kalau langit & bumi ada dlm kuasaNya, apalagi masalah kita didunia, tentu ada dlm kuasaNya.
Masalah kita hny hal yg sepele & biasa2 dihadapan Tuhan.
Kuasa Tuhan tdk perlu kita ragukan lagi disaat jalan & pintu tertutup, sebab sebentar lagi Tuhan akan membuat mujijat dgn kuasaNya.
Bagian kita adlh percaya saja, makin percaya makin menggerakkan kuasaNya menggeser gunung2 persoalan kita.
2.KEKUATAN TUHAN.
Jika Tuhan berpihak pd kita, maka siapa lawan kita?
Tidak ada kekuatan masalah yg bisa menghancurkan kita, selama kekuatan Tuhan menjagai kita.
Percayalah Kekuatan hutang, Kerugian yg besar... Pasangan yg selingkuh & Penyakit kanker tdk akan bisa mengalahkan kekuatan Tuhan kita.
Masalah kita hanya biasa2 saja dihadapan Tuhan, sebab kekuatan Tuhan yg luar biasa menopang kita.
3.TANGANNYA TERBUKA.
Tangan Tuhan selalu terulur & terbuka menolong kita setiap saat.
Kalaupun Dia ijinkan masalah pandemi ini blm berlalu, tetapi tanganNya selalu terbuka memegang & menjagai kita erat2.
Tidak ada yg bisa merampas hidup kita dr tangan Tuhan yg kuat, bahkan tangan & lenganNya selalu ikut campur tangan dlm setiap proses kehidupan kita.
Percayalah semuanya mendatangkan kebaikan & tanganNya selalu tepat waktu memulihkan kita scr ajaib.
JANGAN MERAGUKAN TUHAN DISAAT SEMUA JALAN TERTUTUP, SEBAB KUASA & KEKUATANNYA YG TIDAK TERBATAS MENYERTAI KITA SAAT INI, BAHKAN TANGANNYA SEDANG BEKERJA MEMULIHKAN KITA SECARA AJAIB🙏...SELAMAT PAGI TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA

*King’s Sword* Tanggal: 17 November 2021 Hari: Rabu Bacaan Alkitab Setahun: Yoh 11:33-57 Yeh 5-7 Via Audio: https://youtu.be/5a-s8Mzbs80 h...