13 Juli 2021

 *King’s Swors*

* Tanggal: 13 Juli 2021*
Hari: Selasa

Bacaan Alkitab Setahun:
Flp 2
Maz 4-5

*PERAN AYAH SEBAGAI IMAM, NABI DAN RAJA*

_“Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.”_ 1 Korintus 11:3
Seorang pria sebagai ayah dan kepala rumah tangga mengemban tugas sebagai imam, nabi dan raja. Tuhan telah mempercayakan kepada setiap ayah tanggung jawab untuk mewujudkan pernyataan yang mendasar dari alkitab, yaitu ke-Bapaan. Menjadi ayah yang sejati adalah gambaran yang paling sempurna tentang Allah yang dapat diraih oleh setiap pria, sebagai cerminan Allah di hadapan keluarganya. Seorang ayah harus bertanggung jawab mewakili Kristus dalam keluarganya. Inilah gambaran tanggung jawab yang besar bagi seorang ayah sebagai imam. Hanya imam yang boleh mempersembahkan korban atas nama keluarganya dengan cara mempersembahkan ucapan syukur, melakukan doa syafaat membuka jalan untuk keselamatan dan menerapkan iman bagi anak-anaknya.
Sebagai imam seorang ayah mewakili keluarganya di hadapan Tuhan, sedangkan sebagai seorang nabi, seorang ayah mewakili Tuhan di hadapan keluarganya. Oleh sebab itu seorang ayah dapat mewakili Tuhan melalui teladan kasihnya. Begitu banyak permasalahan di dunia ini yang akarnya adalah karena tidak adanya kasih bapa (ayah) di dalam keluarga. Seorang ayah juga dapat mewakili Tuhan melalui pengajarannya. Tugas dan tanggung jawab mengajar anak-anak tidak dapat diserahkan kepada institusi pendidikan ataupun sekolah minggu. Libatkan anak-anak agar juga mengalami pertumbuhan secara rohani, karena takut akan Tuhan adalah kunci agar anak-anak tidak mudah terpengaruh akan hal-hal negatif yang ada di dalam pergaulannya.
Seperti halnya Nuh, seorang ayah harus peka terhadap suara Tuhan dan bahaya yang menghadang keluarganya serta mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi keluarganya. Fungsi ayah sebagai raja adalah bertugas untuk mengatur keluarganya atas nama Tuhan. Kata ini mengandung sejumlah pengertian terkait termasuk memerintah, melindungi atau mengatur. Sebagai kepala rumah tangga seorang ayah harus mampu menjalankan otoritas dan membuat anak-anaknya menghormati orang lain, taat dan bisa diatur.
Dengan menggabungkan antara kasih dan disiplin yang seimbang maka akan menghasilkan anak-anak yang berhasil. Kepemimpinan yang berhasil di rumah adalah dasar dari kepemimpinan di gereja, lingkungan, bangsa dan negara. Pandangan hidup apa yang sedang kita tularkan dalam keluarga? Apakah kita sedang menanamkan cinta pada nilai-nilai kekekalan yang akan mengarahkan keluarga kita menuju kehidupan yang melayani Yesus? Ataukah mengutamakan keberhasilan secara duniawi?
Jika saat ini kita belum berfungsi di dalam keluarga, tidak ada kata terlambat untuk berbalik dan mengalami pemulihan. Dua langkah sederhana yang dapat kita ambil yaitu dengan mengakui dosa-dosa kita di hadapan Tuhan dan di hadapan semua orang yang dirugikan atas dosa kita. Cari mentor atau hamba Tuhan yang mampu mengarahkan hidup kita, karena keterbukaan adalah awal dari pemulihan. Amin (RSN)
Questions:
1. Apakah peran seorang ayah di dalam keluarganya?
2. Nilai-nilai apa yang sedang kita tanamkan dalam keluarga kita?
Values:
Banyak permasalahan di dunia ini yang akarnya adalah karena tidak adanya kasih bapa (ayah) di dalam keluarga.
Kingdom Quote:
_Menjadi ayah yang sejati adalah gambaran yang paling sempurna tentang Allah yang dapat diraih oleh setiap pria._

12 Juli 2021

 

APAKAH ORANG YANG SUDAH MENINGGAL DAPAT MENJUMPAI KITA

Judul artikel ini menjadi pertanyaan dari sebagian orang percaya, khususnya mereka yang memiliki pengalaman-pengalaman yang aneh namun nyata, yakni mengalami perjumpaan dengan orang yang telah meninggal di dalam mimpi mereka. Di mana dalam mimpinya seseorang melihat dirinya sedang berbincang-bincang dengan orang yang dikenalnya. Bahkan ada yang menyampaikan pesan secara spesifik terkait benda miliknya serta sejumlah uang yang tersimpan dalam lokasi tertentu, dan ternyata persis yang disampaikan dalam mimpi demikianlah kenyataannya. Ini hanya sebagian kecil dari peristiwa unik namun nyata yang dialami oleh tidak sedikit orang. Bagaimana kita dapat menjelaskan peristiwa-peristiwa yang seperti ini?

Mari kita lihat tiga anggapan yang berkembang di antara masyarakat Kristen secara luas dan apa kata Alkitab terkait hal tersebut.

  1. Fenomena Sebagaimana Tuhan Yesus Menjumpai Murid-murid Sebelum Ia Terangkat ke Sorga (Kisah Para Rasul 1:2)
    Sebagian orang percaya dari kalangan tertentu memiliki kepercayaan secara tradisi bahwa orang yang telah meninggal masih dapat menjumpai orang yang masih hidup dalam kurun waktu 40 hari setelah kematiannya; sebagaimana juga dipercaya oleh tradisi yang berkembang di masyarakat. Ditambah lagi dengan mengutip ayat sekenanya dan di luar konteks.
    Mereka meyakini sebagaimana Tuhan Yesus menjumpai murid-murid-Nya berulang-ulang selama 40 hari (Kisah Para Rasul 1:2), maka orang yang sudah meninggal dapat mengunjungi yang masih hidup dalam kurun waktu 40 hari setelah kematiannya.
    Yang memegang kepercayaan ini pastinya tidak sadar bahwa Yesus bukanlah orang mati yang mengunjungi murid-murid, melainkan Ia telah bangkit dari kematian dan Hidup! (Markus 9:9-10; Lukas 24:46; Yohanes 2:22; 20:9; Roma 6:9; 2 Timotius 2:8)
    Jadi anggapan bahwa orang meninggal dapat menjumpai kita sebagaimana Yesus adalah sebuah pemahaman yang keliru dan tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab.

  2. Fenomena Sebagaimana Musa dan Elia Menjumpai Tuhan Yesus di Bukit Transfigurasi
    (Matius 17:1-8; Markus 9:2-9; Lukas 9:28-36)

    Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa peristiwa ini dapat menjadi sebuah pijakan untuk menyatakan bahwa orang yang telah meninggal, dalam hal ini Musa (Ulangan 34:7); sebab Elia tidak mati melainkan terangkat ke Sorga (2 Raja-raja 2:11) - menjumpai Tuhan Yesus dan bercakap-cakap dengan Yesus (Matius 17:3).
    Dalam konteks ini pun tidak tepat jika dijadikan landasan kepercayaan orang yang sudah meninggal menjumpai manusia yang masih hidup, sebab pada waktu itu Tuhan Yesus berubah rupa (Yun. Metemorphote), sehingga baik Tuhan Yesus, Musa maupun Elia berada dalam dimensi yang berbeda dengan manusia pada umumnya sebagaimana halnya Petrus, Yakobus dan Yohanes yang menyertai Yesus.

  3. Fenomena Sebagaimana Saul Berjumpa dengan Roh Samuel
    (1 Samuel 28:11-14)

    Terkait dengan peristiwa ini ada dua penafsiran yang berkembang. Satu golongan menafsirkan bahwa roh yang muncul itu bukanlah roh Samuel dan golongan yang lainnya mengatakan itu benar roh Samuel, yang atas seizin Tuhan datang untuk memberikan pelajaran dan peringatan kepada Saul. Terlepas apakah kita berada dalam golongan yang meyakini itu adalah roh Samuel ataupun bukan, Alkitab jelas menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Saul tersebut (pemanggilan arwah, bertanya kepada arwah) adalah pelanggaran terhadap firman Tuhan dan merupakan dosa (Imamat 19:31; 20:6; Ulangan 18:10-12; Keluaran 22:18; Imamat 20:27) yang karenanya mengakibatkan Saul mati. (1 Tawarikh 10:13-14)
    Lagipula, ada perbedaan antara contoh dalam pendahuluan artikel ini dengan apa yang terjadi pada Saul. Saul jelas berniat untuk memanggil arwah dan meminta petunjuk kepada arwah (orang yang sudah meninggal), sedangkan mereka yang mengalami mimpi berjumpa dan bercakap-cakap dengan orang yang sudah meninggal, tentu tidak pernah secara sengaja meminta untuk berjumpa kembali atau mendapat kunjungan dari orang yang telah meninggal dunia. Mimpi itu datang begitu saja, bahkan tanpa direncanakan.

Sehubungan dengan orang yang sudah meninggal, satu kali Tuhan Yesus pernah menyampaikan sebuah perumpamaan dalam Lukas 16:19-30 tentang ‘Orang Kaya dan Lazarus’. Sekalipun ini adalah sebuah perumpamaan, namun kita tahu bahwa Tuhan Yesus seringkali menggunakan perumpamaan dalam mengajar agar lebih mudah dipahami oleh pendengar-Nya. Pelajaran dari Tuhan Yesus yang bisa kita ambil adalah bahwa ada jurang pemisah dalam dunia orang mati yang memisahkan dua kompartemen yang berbeda yakni Hades dan Firdaus. Pelajaran berikutnya adalah tidak diperlukan orang yang telah meninggal untuk mengunjungi orang yang masih hidup untuk menyampaikan pesan, khususnya terkait pertobatan, sebab sudah ada pada mereka kitab suci.

Mimpi Manusia dan Perjumpaan dengan Orang yang Telah Meninggal dalam Mimpi
Setiap manusia pasti mengalami mimpi. Pertanyaannya apa dan bagaimana kita menjelaskan terkait mimpi? Dalam “Dreams, Visions”1 di mana Leland Ryken, seorang Professor Emeritus Bahasa Inggris di Wheaton College di Wheaton, Illinois, yang juga adalah penata gaya sastra dari Alkitab terjemahan Bahasa Inggris - English Standart Version (ESV) menjadi editornya; dijelaskan bahwa:
(1) Mimpi muncul sesuai dengan kondisi yang sedang dialami manusia pada hari itu. (Yesaya 29:8; Pengkhotbah 5:2; Ayub 7:13-14)
(2) Mimpi muncul sesuai dengan kondisi kesehatan spiritual suatu bangsa, di mana ketika satu bangsa berdosa kepada Tuhan maka tidak ada tuntunan dari Tuhan; bahkan tidak melalui mimpi yang menandakan pengabaian oleh Tuhan. (1 Samuel 3:1; Mikha 3:5-7)
Namun, nubuatan bahwa mimpi dan penglihatan akan kembali didahului oleh pemurnian bangsa dan pencurahan Roh Tuhan. (Yoel 2:28; Kisah Para Rasul 2:17)

Bagaimana kita dapat menjelaskan peristiwa unik namun nyata yang dialami oleh mereka yang bermimpi dan mengalami perjumpaan dengan orang yang sudah meninggal? Alkitab tidak berkata apa-apa terkait orang yang sudah meninggal menjumpai orang yang masih hidup melalui mimpi.
Dalam Alkitab kita mendapati begitu banyak ayat yang menyatakan bahwa TUHAN menjumpai orang melalui mimpi, di mana dalam mimpi tersebut TUHAN memberikan pesan peringatan:

  • agar jangan sampai berbuat dosa (Kejadian 20:3-6; 31:24; Matius 27:19),
  • memberikan strategi (Kejadian 31:11; Matius 2:12-13),
  • memberikan pesan/berbicara kepada orang tersebut (Bilangan12:6),
  • mengabulkan permintaan (1 Raja-raja 3:5),
  • meneguhkan seseorang untuk melakukan sebuah tindakan (Matius 1:20; 2:19,22).

Namun Alkitab tidak pernah menuliskan tentang orang yang sudah meninggal menjumpai orang yang masih hidup melalui mimpi.
Lantas, siapakah yang menjumpai orang-orang tersebut dalam mimpinya? Apakah setan atau roh jahat yang menjadi antek-anteknya? Tentu tidak juga demikian! “Mimpi adalah gerbang, pintu menuju supranatural,” kata Dr. Breathitt. “Jika orang baru saja kehilangan orang yang dicintai dan mereka tidak sempat mengucapkan selamat tinggal, Allah memilih orang itu untuk kembali ke dalam mimpi mereka sebagai pembawa pesan. Jika pemimpi terjebak dalam kesedihan, almarhum akan memberi tahu pemimpi bahwa mereka bahagia, bahwa mereka berada di surga, bahwa Yesus itu nyata. Dan bahwa mereka ingin pemimpi berhenti berduka dan menjalani takdir mereka.”2

Dalam kedaulatan dan kasih-Nya, Tuhan bisa saja memberikan mimpi kepada kita di mana dalam mimpi itu kita melihat orang yang telah meninggal dan penglihatan itu begitu nampak sangat nyata, untuk memberikan pesan penghiburan dan kekuatan kepada mereka yang masih hidup yang telah ditinggalkan oleh orang yang mereka kasihi.
Namun demikian tidak semua mimpi bertemu dengan orang yang telah meninggal adalah hal yang baik dan datang dari Tuhan, sama halnya juga bukan semuanya buruk dan dari Iblis. Kita tetap harus memiliki kepekaan dan ketajaman rohani dalam mengujinya. “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:21). Amin (DL/HT
)

 King’s Sword*

* Tanggal: 12 Juli 2021*
Hari: Senin
Bacaan Alkitab Setahun:
Flp 1
Maz 1-3

*UNSHAKEABLE KINGDOM*

_“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.”_ Ibrani 12:28
Dalam beberapa tahun terakhir muncul sebuah rangkaian film action fiksi Holywood yaitu *Olympus has Fallen*; *London has Fallen* dan *Angel has Fallen* diperankan oleh Gerard Butler (aktor yang dikenal lewat film *300 Spartan*) dan aktor kawakan Morgan Freeman. Ketiga film ini mencoba menceritakan usaha untuk menghancurkan negara Amerika Serikat melalui upaya penyerangan kepada Presiden Amerika Serikat melalui serangkaian serangan teroris dan penyerangan bahkan kepada White House sebagai simbol pusat kendali pemerintahan Amerika Serikat atau serangan langsung kepada Presiden Amerika Serikat. Dalam ketiga film ini selalu diselipkan sebuah pesan pidato Presiden yang berkata bahwa meskipun “negara” kita digoncangkan, diserang, mencoba dihancurkan, tetapi kita terus bertahan bahkan membuat kita semakin kuat.
Firman Tuhan menggambarkan bahwa pada akhir jaman ini Allah mengijinkan segala sesuatu digoncangkan. Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga." -- Ibr 12:26. Apakah tujuan Allah mengijinkan hal itu terjadi, justru untuk menunjukkan bahwa ada kualitas yang tidak tergoncangkan yang tetap bertahan. Seringkali dalam proses produksi, ada beberapa bahan yang perlu di “goncangkan“ atau digoyang-goyang, disaring untuk merontokkan atau menyaring bagian-bagian yang kotor agar tersisa kualitas bahan yang
terbaik
. Demikianlah Allah dalam segala hikmatNya justru menggunakan segala goncangan kondisi yang ada, justru untuk menunjukkan kualitas hidup kita yang sesungguhnya (Ibr 12:27).
Kita mungkin pernah mendengar sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa beragam tantangan, goncangan kehidupan bukanlah sekedar untuk menguji kekuatan kita melainkan justru untuk menunjukkan siapakah kita yang sebenarnya. Siapakah kita? Kita adalah umat yang seharusnya binasa karena dosa. Dosa seharusnya membuat kita berada di dalam kerajaan kegelapan. Tetapi Allah yang dalam kekayaan anugerahNya, memberikan nyawaNya menggantikan, dan menebus dosa kita, sehingga kita yang percaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan karya salibNya dipindahkan dari kerajaan kegelapan kepada kerajaan anakNya (Kol 1:13). Itulah sebabnya melalui firmanNya yang kita baca hari ini menunjukkan respon
terbaik
yang seharusnya kita lakukan meskipun dalam situasi yang “masih terus bergoncang”, yaitu hati yang penuh ucapan syukur, dan terus membangun relasi kepada Allah sang Raja dengan penuh rasa hormat, itulah kualitas hidup kerajaan Allah, Anda mengerti? (HA)
Questions:
1. Bagaimana memperoleh Kerajaan Allah? 2. Apakah Kerajaan-Nya sudah ada di dalam hidup Anda? Apa dampak di dalam kehidupan Anda?
Values:
Allah menggunakan segala goncangan kondisi yang ada, untuk menunjukkan kualitas hidup kita yang sesungguhnya.
Kingdom Quote:
_Cara bertahan
terbaik
dalam masa goncangan adalah tetap tinggal dalam Kerajaan Kristus yang tak tergoncangkan.

11 Juli 2021

 *King’s Sword*


*Tanggal:11 Juli 2021*

Hari: Minggu


Bacaan Alkitab Setahun:
Ef 6
Ayb 41-42

*DE JA VU*
_"Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak."_ Lukas 5:5-6
De Ja Vu kata yang berasal dari bahasa perancis, secara harfiah artinya "pernah dilihat". De Ja Vu adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu. Murid-murid Yesus kebanyakan berprofesi nelayan dari danau Galilea, kegagalan semalaman menangkap ikan adalah titik awal mereka tertarik mengikuti Rabi Yesus. Setelah Yesus menolong mereka secara “mujizat“ menjala ikan dalam jumlah banyak, di siang bolong. Tanpa ragu mereka kemudian meninggalkan profesinya dan menjadi murid-murid Yesus. (Lukas 5:9-10)
Tujuan Yesus mencari murid-murid adalah untuk menjadikan mereka “penjala manusia“, sebuah ungkapan metafora yang tidak dimengerti oleh para murid saat itu. Mereka rela dan bersemangat mengikuti Sang Guru karena mereka telah melihat Sang Guru dapat menjamin kehidupan sandang pangan mereka, mereka rela menggantikan profesi mereka sebagai nelayan yang sering gagal mendapatkan tangkapan ikan dan bersedia menjadi murid Sang Guru.
Singkat cerita para murid diajarkan “menjala manusia“. Ketika para murid mulai menyadari Sang Guru adalah Mesias yang dijanjikan, pada saat itu pula Sang Guru mulai berterus terang bahwa Ia harus “menjadi domba paskah yang dikorbankan“ yaitu dengan cara mati disalibkan. Para murid tak dapat percaya, mereka mengalami “fase penyangkalan” yaitu tidak cocoknya harapan dan kenyataan. Sejak itu semua pesan Sang Guru tak lagi dapat lagi diserap. Pasca Gurunya di Salibkan, -- walaupun Gurunya bangkit dan menampakkan diri dalam tubuh kebangkitan, mereka tetap kehilangan harapan. Mereka spontan kembali ke profesi lama menjadi nelayan di danau Galilea, menyimpang dari pada tujuan semula menjadi “penjala manusia“. Kemudian peristiwa “de ja vu“ terjadi, Yesus kembali secara mujizat, menolong mereka mendapat banyak ikan saat menjala. (Yohanes 21: 4-6)
Akhir dari cerita ini, setelah Yesus mengajak makan ikan hasil tangkapan mereka, Yesus mengarahkan mereka pada tujuan panggilan semula “menjadi penjala manusia“, tetapi dengan istilah baru “Gembalakan domba-domba-Ku“. Mungkin istilah ini dipakai supaya tak terjadi “De Ja Vu“ ketiga kalinya, dan supaya mereka benar-benar meninggalkan profesi lama mereka sebagai nelayan.
Kesimpulannya, mujizat menjala ikan, walau berulang atau “De Ja VU“, tetapi ini hanyalah perantara untuk tujuan utama, yaitu penyelamatan umat manusia dari kuasa dosa, karena manusia telah kehilangan akan kasih Allah, bagai domba tak tergembalakan. Anda setuju? (DD)
Questions:
1. Apakah Anda pernah mengalami “De Ja Vu”?
2. Menurut Anda, apa tujuan Yesus melakukan mujizat yang sama dua kali?
Values:
Mesias yang disalib bukanlah konsep Mesias yang diharapkan oleh para murid, sehingga Sang raja perlu mendemontrasikan mujizat yang sama (De Ja Vu) setelah peristiwa penyaliban.
Kingdom Quote:
_Mujizat adalah perantara, tujuan utama adalah penyelamatan umat manusia._

10 Juli 2021

 *King’s Sword*

*Tanggal:10 Juli 2021*
Hari: Sabtu

Bacaan Alkitab Setahun:
Ef 5:22-33
Ayb 38-40

*MENYIKAPI PERUBAHAN*

_“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”_ Amsal 16:9
Perubahan pasti terjadi setiap hari, siap ataupun tidak. Sikap orang dalam menghadapi perubahan tidak sama. Ada sebagian orang yang menunggu perubahan terjadi dahulu, kemudian ia baru mau berubah. Namun ada sebagian orang tetap mau berubah sekalipun perubahan belum terjadi. Jadi sikap menghadapi perubahan adalah sangat penting. Kita harus bersikap benar menghadapi perubahan.
Bagaimana cara menyikapi perubahan?
Ada dua hal penting dalam menyikapi perubahan. Yang pertama, buatlah perencanaan. Jika kita gagal membuat perencanaan, kita sedang merencanakan kegagalan. Perencanaan itu sangat penting. Ada beberapa orang berpikir bahwa mereka merasa telah mengandalkan TUHAN sehingga tak perlu membuat perencanaan, tentu saja ini tidak benar. Ada pula beberapa orang yang terlalu sibuk membuat perencanaan sehingga mereka bingung mana yang harus mereka lakukan terlebih dahulu, ini pun tidak benar. Bagian kita adalah membuat perencanaan untuk masa kini dan masa depan.
Membuat perencanaan adalah bagian dari dari kehidupan kita. Ada perencanaan harian, mingguan, bulanan bahkan perencanaan untuk tahun-tahun mendatang. Buatlah perencanaan sekalipun tidak semua perencanaan kita akan terlaksana, sebab kita harus menyerahkan semua rencana kita kepada TUHAN. Saya sering berdoa, 'Jika rencana saya tidak sesuai dengan rencana TUHAN, lebih baik TUHAN membatalkan saja. Biarlah rencana TUHAN yang jadi, bukan rencana saya.' Bagian TUHAN adalah menetapkan rencana dan kehendakNYA. Rencana dan kehendak TUHAN pasti terlaksana.
Jika kita mau setuju dengan rencana dan kehendak TUHAN, maka satu demi satu rencana dan kehendak TUHAN pasti akan terlaksana lebih cepat dari yang kita harapkan. Oleh sebab itu marilah kita setuju dengan rencana dan kehendak TUHAN setiap hari. Yang kedua, miliki kemauan untuk berubah. Perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi perubahan. Perubahan dapat terjadi secara mendadak. Perubahan dapat terjadi perlahan-lahan.
Mari kita belajar untuk setuju dengan kehendak TUHAN. Jika kita memberontak dengan kehendak TUHAN maka kita akan babak belur menjalani kehidupan kita. Jangan sampai kita terpaksa berubah setelah babak belur menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Sesungguhnya TUHAN tidak pernah memberikan permasalahan kepada kita. Namun lewat permasalahan yang kita hadapi akan mendorong kita untuk berubah. Berubahlah karena kita memang mau berubah, jangan sampai kita berubah karena terpaksa.
Perubahan demi perubahan akan terasa dan terlihat indah saat kita mau setuju dengan rencana dan kehendak TUHAN. Mari sikapi setiap perubahan dengan penuh syukur kepada TUHAN. (DW)
Questions:
1. Bagaimana cara anda menyikapi perubahan?
2. Mengapa kita harus memiliki komitmen untuk berubah?
Values:
Seorang Warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang mau mempersiapkan diri menghadapi perubahan.
Kingdom Quote:
_Saat kita setuju dengan TUHAN kita akan melihat betapa indahnya rencana TUHAN._

09 Juli 2021

 *King’s Sword*

*Tanggal: 9 Juli 2021*

Hari: Jumat


Bacaan Alkitab Setahun:
Ef 5:1-21
Ayb 36-37

*BERTEKUN DENGAN SEHATI*

_”Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”_ Kisah Para Rasul 2:46-47
Dalam Kisah Para Rasul 1:8 diceritakan bahwa sebelum terangkat ke surga, Tuhan Yesus sudah memberikan pesan terakhirnya di bumi kepada para murid-Nya, yaitu bahwa murid-murid- Nya tersebut akan menerima kuasa jika Roh Kudus turun atas mereka, dan mereka akan menjadi saksi-Nya, di Yerusalem, di seluruh Yudea, dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi. Pesan Yesus tersebut bukan saja mengandung janji akan apa yang dilakukan oleh Roh Kudus kepada para murid-Nya, tapi juga petunjuk untuk bagaimana caranya agar Roh Kudus turun ke atas mereka. Dalam ayat 4, secara spesifik Tuhan Yesus meminta agar murid-murid-Nya tidak pergi meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ untuk menantikan janji Bapa.
Lebih lanjut dalam ayat 8, Tuhan Yesus menyatakan bahwa janji Bapa yang akan mereka terima adalah kuasa (Yunani: dunamis), yaitu kuasa yang sifatnya supranatural, ketika Roh Kudus turun ke atas mereka, dengan tujuan agar mereka dapat menjadi saksi-Nya. Dari 500 orang yang menyaksikan terangkatnya Tuhan Yesus ke sorga, ternyata hanya 120 orang saja yang akhirnya bersama-sama dengan kesebelas murid yang naik ke ruang atas tempat mereka menumpang utuk bertekun sehati dalam doa. Mereka sadar bahwa kuasa Roh Kudus bukan diperuntukkan agar mereka menjadi sosok yang
hebat
sendirian (one man show), tapi kuasa itu diperuntukkan bagi pekerjaan suatu tim, yakni gabungan dari orang-orang percaya.
Dalam ilmu manajemen, salah satu kunci keberhasilan kerja tim (team work) adalah adanya kesatuan dalam tim. Inilah yang menjadi salah satu kunci awal dicurahkannya Roh Kudus ke atas orang percaya, yakni ketika orang-orang bertekun (berkeras hati dan sungguh-sungguh) untuk sehati (Yunani: homothumadon, yang berarti satu tujuan atau satu pikiran), dalam doa. Ketika mereka sama-sama sungguh-sungguh, dengan satu tujuan dan satu pikiran, berdoa meminta kuasa Tuhan, yang terjadi adalah sungguh luar biasa. Kisah Para Rasul 2:1-47 mencatatkan kebangunan rohani pertama yang dilakukan murid-murid tanpa kehadiran fisik dari Tuhan Yesus. Pada hari Pentakosta itu, tercatat ada tiga ribu orang yang memberi diri dibaptis, hanya dalam satu kali khotbah dari Petrus.
Ayat nats kita hari mengajarkan kepada kita bahwa kunci dari dicurahkannya kuasa Roh Kudus ke atas kita adalah ketika kita berdoa sama-sama bertekun (sungguh-sungguh) dalam satu tujuan dan satu pikiran. Jangan ada dari kita yang memiliki agenda tersembunyi untuk keuntungan diri sendiri atau sekelompok orang saja.
Jangan ada pula dari antara kita yang tidak mau sungguh-sungguh berdoa bersama. Singkirkan segala ego dan agenda pribadi kita. Tetapkan diri kita kepada pikiran dan tujuan yang sama, yaitu untuk dapat menjadi saksi Kristus, maka saat kita berkumpul bersama dan berdoa dengan sungguh-sungguh maka kuasa supranatural tersebut akan Tuhan curahkan kepada kita. Amin (YMH)
Questions:
1. Apa pesan terakhir Tuhan Yesus sebelum Ia terangkat ke sorga?
2. Mengapa kita perlu bertekun dengan sehati dalam doa?
Values:
Doa bersama yang dilakukan dengan ketekunan dalam kesatuan hati adalah kunci dicurahkannya kuasa Roh Kudus.
Kingdom Quote:
_“The Holy Spirit did not come to make them of one accord, He came because they were of one accord... ” – A. W. Tozer_

08 Juli 2021

 *King’s Sword*


*Tanggal: 8 Juli 2021*

Hari: Kamis

Bacaan Alkitab Setahun:
Ef 4
Ayb 34-35


*BERJALAN BERSAMA ALLAH*

_“Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.”_ Mazmur 5:13
Berjalan taat kepada firman dan petunjuk Allah, mengutamakan waktu bersama dengan Dia setiap hari, membiarkan segala sesuatu dalam kehidupan kita mengalir dalam keintiman persahabatan dengan-Nya, itulah yang disebut berjalan bersama Tuhan. Kita akan menemukan Dia dan Ia akan selalu melakukan bagian-Nya dalam kehidupan kita, yaitu jika kita datang kepada-Nya dan tinggal di dalam Dia. Tetapi, Ia memberikan kehendak bebas kepada kita.
Terserah bagaimana kita melakukan bagian kita, apakah kita akan melekat dan bergantung kepada Dia dengan memilih untuk menjadikan Dia tempat perlindungan, dan konsekuensinya kita harus juga memilih berjalan di dalam Dia. Artinya, kita harus mempercayai Allah, menghardik ketakutan, teguh berdiri di atas firman-Nya dan mengucapkan janji-jani Allah jika panah-panah api si iblis menghadang jalan kita. Atau, kita bisa memilih tinggal di dalam ketakutan dan keluar dari tempat perlindungan kita.
Dalam masa-masa krisis seperti sekarang ini, dengan adanya pandemi covid-19, kita harus menetapkan pilihan! Rasa aman dalam hidup seseorang akan tergantung dari berapa banyak waktu dan perhatian yang diberikannya bagi Allah dan firman-Nya. Kedengarannya sederhana, tapi inilah kebenaran! Alkitab berbicara tentang ”orang yang kurang percaya”, ini akan terjadi dalam hidup kita, jika kita hanya memberikan sedikit waktu bagi Allah, akibatnya tidak banyak pula pertolongan Allah dalam hidup kita. Tetapi, jika kita memberikan perhatian dan waktu untuk bersama Allah dan merenungkan firman-Nya dan menolak mempercayai situasi dunia yang kita lihat, Allah akan memperhatikan dan menyelamatkan kita dalam situasi yang kita alami. Allah tidak pernah mau berhutang, Ia akan membayar kesetiaan kita.
Ketika kita secara konsisten berjalan bersama Allah dan mendengarkan perkataan-Nya. Ia akan mempersiapkan kita, jika kita harus melalui krisis sekalipun. Kadangkala hanya dengan mengetahui mana pilihan yang harus kita ambil, akan menyelamatkan hidup kita. Karena itu mintalah kepada Tuhan untuk memimpin setiap langkah kita setiap hari.
Berdoalah seperti Daud, Bawalah aku berjalan dalam kebenaranMu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari” (Mazmur 25:5). Anda mengerti? (AU)
Questions:
1. Mengapa kita harus selalu berjalan bersama Allah?
2. Bagaimana supaya kita bisa berjalan bersama dengan Allah? Apa yang harus kita lakukan?
Values:
Ketika kita secara konsisten berjalan bersama Allah dan mendengarkan perkataan-Nya. Ia akan mempersiapkan kita, jika kita harus melalui krisis sekalipun.
Kingdom Quote:
_Berjalanlah terus bersama Tuhan, sekalipun melewati lembah air mata, akan diubahkan menjadi tangisan sukacita._

*King’s Sword* Tanggal: 17 November 2021 Hari: Rabu Bacaan Alkitab Setahun: Yoh 11:33-57 Yeh 5-7 Via Audio: https://youtu.be/5a-s8Mzbs80 h...