06 September 2021

 *King's Sword*

Tanggal: 6 September 2021
Hari: Senin

Bacaan Alkitab Setahun:
Luk 15:1-10
Maz 146-147

*ZONA HITAM*

“_Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu_.” Amsal 24:10
Dalam upaya penanganan pandemi covid-19, pemerintah menetapkan pembagian zonasi berdasarkan warna yaitu hijau, kuning, oranye dan merah. Khusus Surabaya, hanya hijau, kuning dan merah yang diberlakukan di tingkat RT. Disebut zona hijau jika tidak ditemukan kasus di RT tersebut, kuning jika terdapat 1 kasus. Dan jika lebih dari 1 maka menjadi zona merah. Lalu sekarang sering muncul istilah zona hitam padahal tidak ada dalam istilah zonasi warna.
Tentu saja istilah ini awalnya muncul disengaja sebagai ekspresi yang berlebihan kepada informasi yang diterimanya. Namun kemudian berkembang menjadi respon umum banyak orang sebagai hal yang benar. Malahan ada orang yang ketika melihat peta warna penyebaran wabah, merasa melihat warna merah menjadi kehitam-hitaman seolah-olah ada awan hitam menutupi wilayahnya termasuk hati dan pikirannya juga.
Di kitab Bilangan 13 ketika Musa mengutus 12 orang pemimpin mengintai negeri Kanaan, mereka pulang membawa kabar bahwa negeri itu terlihat sebagai zona merah, artinya daerah yang berbahaya. Sebenarnya apa yang mereka lihat adalah kenyataan, bukanlah negeri yang ringan dan mudah ditaklukkan. Bukan tidak ada masalah untuk memiliki negeri itu, tetapi kemudian menjadi zona hitam di pikiran sepuluh orang ketika mereka mengatakan tidak dapat mengalahkan bangsa itu (ayat 31-33). Akibatnya timbul kekacauan di antara orang Israel. Hanya dua orang yaitu Kaleb dan Yosua yang berespon secara positif. Memang ada lawan, memang akan terjadi peperangan, akan ada korban tetapi bersama Tuhan pasti akan menang. Namun mereka kalah suara, orang Israel sudah melihat zona merah menjadi hitam.
Hari ini kita semua sedang menghadapi realitas zona merah, tetapi dapatkah kita melihatnya bukan sebagai zona hitam tetapi kesempatan yang diberikan Tuhan di mana di dalamnya akan ada kemenangan. Kita tidak mengabaikan dan meremehkan keadaan yang ada, itu adalah fakta yang harus diterima tetapi bukan untuk membuat kita menjadi takut dan lemah. Banyak orang bermasalah dengan pekerjaan, bermasalah dengan kesehatan, bermasalah dengan hubungan dan dialami oleh semua orang termasuk anak-anak Tuhan, tetapi waktunya untuk melihat campur tangan Tuhan melakukan mujizatNya. Percayalah dan jangan tawar hati. Haleluyah. (LS)
Question:
1. Apakah yang membuat Anda takut hari ini?
2. Kalau keadaan nampaknya semakin mengancam, semakin memburuk, semakin menakutkan, apa yang akan anda lakukan?
Values:
Seorang warga Kerajaan tidak akan fokus kepada masalah yang ada melainkan kepada Tuhan Sang Pemberi jalan bagi yang mengasihi-Nya.
Kingdom Quote:
_Kita tidak dapat mengubah zona merah menjadi hijau, tetapi bisa melihatnya dengan cara pandang yang berbeda_.

05 September 2021

 

PARADIGMA BARU DALAM MELAKUKAN IBADAH YANG SEJATI

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,
sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Roma 12:1-2

Mungkin banyak yang bertanya, bagaimanakah seseorang dapat mempersembahkan persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah? Dalam konteks saat ini, kita mengetahui bahwa sangat terbatas untuk melakukan pelayanan sebagai ibadah yang sejati di gereja. Kita perlu mengerti bahwa konteks Roma 12:1-2 tidaklah terbatas pada pelayanan di dalam lingkungan gereja semata.

Di tengah-tengah keadaan yang kelihatannya kurang menguntungkan ini, haruslah kita ingat bahwa Firman Tuhan tetap berlaku. Secara khusus di dalam Roma 12:1-2 yang akan kita bahas ini, rasul Paulus menasehatkan kita untuk tetap mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah sebagai ibadah yang sejati. Mari kita perhatikan apakah makna dari masing-masing kata di atas berikut ini:

  1. Hidup
    Kata ‘hidup’ yang dipakai di sini berasal dari kata Yunani zaō yang secara harafiah berarti ‘bernafas, tidak mati’. Bukan hanya itu saja, kata ini juga mengandung makna ‘segar, kuat, dan efisien’.
  2. Kudus
    Kata ‘kudus’ yang dipakai di sini berasal dari kata Yunani hagios yang secara harafiah berarti ‘sakral, murni, tidak bercacat secara moral’. Orang percaya yang dikuduskan artinya dipisahkan dan disiapkan untuk setiap pekerjaan yang mulia (2 Timotius 2:21).
  3. Berkenan kepada Allah
    Kata ‘berkenan’ yang dipakai di sini berasal dari kata Yunani euarestos yang secara harafiah berarti ‘menyenangkan, dapat diterima’.

Dari ketiga makna yang rasul Paulus tekankan di atas, maka dapat dipahami bahwa ketika kita mempersembahkan tubuh kepada Tuhan, haruslah dengan potensi/karunia terbaik yang kita miliki, yang disertai dengan pertobatan dari dosa, dan menjalani segala sesuatunya sesuai dengan kehendak Allah, bukan sesuai keinginan kita. Dengan demikianlah kita sedang melakukan ibadah yang sejati.
Rasul Paulus menekankan ini karena persembahan merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dari sebuah ibadah. Dalam konteks Perjanjian Lama, pemahaman persembahan selalu merujuk kepada hewan kurban, dan hewan yang mau dipersembahkan harus sempurna, yaitu yang tidak bercacat cela. Namun, Kristus telah mati bagi kita di atas kayu salib, sehingga Paulus hendak menekankan bahwa tubuh kitalah yang menjadi persembahan itu sendiri, yang artinya di mana pun kita berada, kita sedang melakukan ibadah kepada Tuhan.

  1. Keluarga
    Keluarga adalah persekutuan gereja dalam ukuran yang terkecil. Dalam keluarga ada peran sebagai orangtua, suami, istri dan anak. Peran kita berbeda, tapi melihat apa yang sudah dibahas sebelumnya, setiap peran yang sudah Tuhan tetapkan bagi kita harus kita jalani dengan yang terbaik. Kehendak Allah kepada pribadi kita dalam sebuah keluarga dapat dilihat dari Efesus 5:22-28, 6:1-4, yakni sebagai pasangan suami istri harus menjalani kekudusan dengan setia pada pasangannya. Sebagai orangtua kita harus mendidik anak kita dengan nilai-nilai Firman Tuhan. Sebagai anak, kita bisa menghormati dan berbakti kepada orangtua kita. Inilah pelayanan kita di dalam keluarga sebagai wujud dari mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.

  2. Lingkungan Pekerjaan
    Dalam mempersembahkan tubuh kita sebagai wujud ibadah berikutnya adalah dalam lingkungan pekerjaan. Orang percaya dipanggil untuk bekerja, tetapi bukan sekedar bekerja, namun ia harus mampu menghasilkan buah (Filipi 1:22).
    Tuhan Yesus pun mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu hal yang lebih dari yang diminta (do extra mile - Matius 5:41). Seorang pimpinan dapat do extra mile dengan selalu mendukung bawahannya untuk bekerja lebih produktif, dan tidak lupa memberikan apresiasi untuk setiap pekerjaan baik yang telah dikerjakan. Seorang karyawan dapat do extra mile dengan cara tetap bertanggung jawab dan proaktif dalam mengerjakan pekerjaan lebih dari yang mungkin diharapkan oleh atasannya.
    Kita perlu mengingat nasehat Rasul Paulus bahwa apa pun yang kita perbuat, kita perbuat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)
    Pekerjaan dan ibadah adalah satu kesatuan. Bekerja dengan cara melakukan yang terbaik disertai kejujuran dan melakukan semuanya dengan ketulusan untuk kemuliaan Tuhan, maka inilah wujud nyata dari mempersembahkan tubuh kita yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

  3. Lingkungan Sekitar
    Kita adalah makhluk sosial, kita adalah pribadi yang Tuhan percayakan lahir di bangsa ini dengan masyarakat yang beragam. Di tengah-tengah keadaan ekonomi yang kurang baik saat ini, tentulah makin banyak orang-orang yang merasakan imbasnya, apalagi bagi orang-orang yang sejak semula memiliki kondisi ekonomi yang lemah. Orang percaya juga dipanggil untuk memperhatikan kelangsungan hidup mereka ini sesuai dengan apa yang Firman Tuhan katakan di Amsal 19:17,

    “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.”

    Tidak perlu tunggu harus menjadi lebih berada untuk menolong orang yang kesusahan. Jika kita mau memberikan persembahan yang terbaik sebagai wujud ibadah yang sejati, inilah saatnya kita menolong orang disekitar kita yang mengalami kesusahan. Hal ini serupa apa yang dikatakan Ibrani 13:16

    "Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah."

Jika sebelumnya kita berpikir bahwa mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah hanya dengan melakukan pelayanan atau pekerjaan di lingkungan gereja, sekarang kita memahami bahwa kehadiran kita di dalam keluarga, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan sekitar adalah wujud nyata dari paradigma baru dalam mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah di zaman ini.
Hal-hal ini selain merupakan wujud nyata penerapan dari Roma 12:1-2, juga merupakan wujud nyata menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia ini. (Matius 5:13-16)
Dan semakin banyak orang dunia yang mengenal Kristus melalui kita, maka kita pun akan menggenapi panggilan kita untuk menjalankan Amanat Agung. Sudah siapkah kita? (WP)


 *King's Sword*

Tanggal: 5 September 2021
Hari: Minggu

Bacaan Alkitab Setahun:
Luk 14:25-35
Maz 143-145

*MANUSIA BARU*

“_Jangan lagi kamu saling mendustai, lkarena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya_" Kolose 3:9-10
Manusia normal selalu menginginkan perubahan. Mengapa demikian? Setiap hari selalu terjadi perubahan, baik perubahan yang terduga maupun yang tak terduga. Oleh sebab itu, sebagai Warga Kerajaan Allah kita harus memiliki respon dan sikap yang benar dalam menghadapi perubahan. Salah satu yang perlu kita perhatikan adalah mengenai manusia baru. Mari kita belajar bersama hal manusia baru.
*Yang pertama*, apa itu manusia baru? Manusia baru adalah manusia yang mengalami transformasi kehidupan yang baru. Manusia baru adalah manusia yang telah meninggalkan kehidupan lama. Manusia baru adalah manusia yang berkomitmen hidup dipimpin Roh Kudus setiap hari. Sudahkah anda menjadi manusia baru? Maukah anda menjadi manusia baru?
*Yang kedua*, bagaimana menjalani manusia baru? Matikan kehidupan keduniawian, Kol 3:5-7. Kehidupan duniawi cenderung mengutamakan kenikmatan daging. Kita tidak bisa hidup dalam roh bersamaan hidup dalam daging. Hidup dipimpin Roh Kudus sangat bertentangan dengan hidup mengutamakan kenikmatan daging. Jika kita mau menjalani manusia baru, kita harus mematikan kehidupan duniawi. Buang kehidupan lama, Kol 3:8-9. Kita perlu membuang kehidupan lama dan mulai mengambil keputusan menjadi manusia baru. Tidak ada kompromi dalam hal ini. Tanggalkan dan tinggalkan kehidupan lama untuk menjalani manusia baru. Kenakan manusia baru, Kol 3:10. Setelah mematikan kehidupan duniawi dan membuang kehidupan lama, kini waktunya untuk mengenakan manusia baru. Sekalipun tawaran kehidupan lama masih dapat menggoda kita, mari kita tetapkan diri untuk mengenakan manusia baru dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus setiap saat.
*Yang ketiga*, komitmen mempertahankan manusia baru. Mari kita menjadi ciptaan yang baru, 2 Kor 5:17. Menjadi ciptaan baru dimulai dari lahir baru dan mengenakan manusia baru. Kemudian mulai jalani kehidupan kita menjadi ciptaan baru. Peperangan terbesar dalam manusia baru adalah di pikirannya yaitu pikiran roh atau pikiran daging. Mari ambil keputusan untuk hidup bagi TUHAN, Rm 14:8-9. Orang yang mengambil keputusan hidup untuk TUHAN berarti memiliki komitmen hidupnya hanya untuk TUHAN. Bertanggung jawab kepada TUHAN, Rm 14:12. Jika kita mau mempertahankan manusia baru artinya kita mau hidup bertanggung jawab kepada TUHAN. Orang yang hidup bertanggung jawab kepada TUHAN benar-benar memahami bahwa hidupnya adalah kepercayaan yang TUHAN berikan dan percayakan kepadanya. Hidup damai dan berdampak, Rm 14:19. Manusia baru memiliki kerinduan hidup dalam damai dan berdampak bagi sekelilingnya. Sudahkah anda menjadi manusia baru? (DW)
Question:
1. Bagaimana cara kita menjadi manusia baru?
2. Mengapa kita harus menjadi manusia baru?
Values:
Seorang Warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang mau menjadi manusia baru.
Kingdom Quote:
_Menjadi manusia baru berarti mengambil keputusan menanggalkan dan meninggalkan manusia lama_.

04 September 2021

 *King's Sword*

Tanggal: 4 September 2021
Hari: Sabtu

Bacaan Alkitab Setahun:
Luka 14:1-24
Maz 140-142

*MALU ADALAH BAGIAN DARI IMAN?*

“_Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik
menghasilkan buah yang tidak baik_.” Matius 7:16:17
Ketika saya ke Jepang, hal paling menarik adalah ketertiban dan kebersihan yang menjadi budaya penduduknya. Di Tokyo yang padat kendaraan, tidak satu pun saya jumpai kendaraan yang kelihatan kotor, semua bersih dan tidak ada yang penyok atau tergores.
Bahkan saya melihat beberapa taxi yang mobilnya buatan Tahun 90an, semua kelihatan bersih dan mulus.
Yang hebat lagi ethos kerja orang Jepang, walau jam kantor pulangnya jam 5 sore, namun jarang pegawai kantor swasta di Jepang pulang _on time_, rata-rata mereka lembur, dan extra waktu itu pun tidak dibayar sebagai lembur oleh perusahaan mereka. Ini menunjukkan betapa ethos kerja orang Jepang sangat hebat. Mereka malu dengan tetangga kalau kelihatan pulang tepat waktu.
Keadaan lingkungan di Jepang sangat bersih. Saat ada di pusat perbelanjaan, saya kesulitan mencari tempat sampah, namun saya tak melihat sampah berceceran di jalan-jalan. WC umum selain sangat bersih juga modern, memakai sistem cebok otomatis yang berair hangat. Saya juga tak melihat petugas kebersihan yang berjaga-jaga ada di WC umum , karena para pemakai WC ikut menjaga kebersihan setelah memakainya.
Di Indonesia, saya sering mendengar kalimat "kebersihan adalah bagian dari iman". Seandainya kebersihan memang ada hubungannya dengan iman, dan kebersihan adalah indikator iman, maka dapat dipastikan iman orang Jepang lebih besar dari rata- rata iman orang Indonesia. Walau Negara Cina boleh saja bangga dengan pembangunan mall dan gedung pencakar langitnya, namun kebersihan WC-nya sangat jorok. Sekali lagi, kalau kebersihan adalah indikator iman, maka penduduk Cina dan Indonesia, bisa dikatakan tidak beriman bila dibanding orang Jepang.
Mengapa kebersihan begitu utama di Jepang? Pemandu wisata mengatakan, dengan bersih itu menunjukkan seseorang yang rajin, dan orang Jepang "sangat malu" kalau dibilang malas. Akibatnya mereka menjadi pekerja keras, dan selalu tepat waktu dalam berjanji, juga tertib dalam antrian. Kita pun sudah sering mendengar pejabat Jepang mengundurkan diri jika melakukan kesalahan, atau bawahan mereka melakukan kesalahan, bahkan yang tak sengaja sekalipun. Jadi budaya malu-lah yang mendasari semua. Di Jepang bisa dikatakan "malu adalah bagian dari Iman". Bagaimana dengan Anda dan saya? Masih punyakah kita rasa malu? Jangan- jangan urat malu kita sudah putus. (DD)
Question:
1. Menurut anda benarkah kebersihan adalah bagian dari Iman?
2. Mengapa orang jepang yang dianggap kurang beriman justru hidupnya sangat bersih dan rajin?
Values:
Warga kerajaan sejati akan hidup sesuai teladan sang raja yang selalu berbuah kebaikan.
Kingdom Quote:
_Jika kebersihan dianggap bagian dari Iman, maka banyak orang yang tak beragama, lebih beriman_.

03 September 2021

 *King's Sword*

Tanggal: 3 September 2021
Hari: Jumat

Bacaan Alkitab Setahun:
Luk 13:22-35
Maz 137-139

*_GROWING ZONE_ (AREA PERTUMBUHAN)*

“_Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh_.” Filipi 3:16
Sejak awal pandemik Covid 19 terjadi, maka kita diperlihatkan kepada berbagai respon orang dalam menyikapi situasi ini. Ada sekelompok orang yang merasa Covid 19 ini tidak ada, dan ini hanyalah sebuah cerita hiperbola. Sebagian lagi ada yang merasa ini adalah teori konspirasi artinya ini adalah sebuah rangkaian skenario yang sengaja didesain untuk sebuah dominasi kekuasaan beberapa negara, atau ini adalah rekayasa bisnis dan ada juga yang menganggap ini sebagai tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh aspek kesehatan.
Tentunya berbagai pilihan keyakinan ini akan menentukan respon seseorang dalam menghadapi kondisi ini. Ada yang begitu “parno“ sehingga menjadi begitu ketakutan, stres, ada yang tidak percaya sehingga mengabaikan apapun instruksi protokol kesehatan, ada yang berespon secara wajar dan mengikuti segala protokol kesehatan dan berbagai usaha pemulihannya. Perbedaan ini tak jarang juga mengakibatkan potensi konflik dan pertengkaran.
Firman Tuhan yang kita baca sedang menggambarkan situasi kehidupan yang berada di jemaat Filipi. Ada banyak perbedaan respon yang disebabkan oleh berbagai perbedaan pandangan tentang Kristus, atau pemahaman praktek hidup kekristenan. Situasi ini berakibat rentannya konflik, perpecahan,ketidak sehatian. Itu sebabnya Paulus menasehatkan jemaat untuk sehati, sepikir, dan tidak mementingkan kepentingan sendiri (Filipi 2:2-4), dan terus fokus melangkah menggenapi panggilan surgawi (Filipi 3:14).
Jadi apakah yang harus kita lakukan? Firman Tuhan menggambarkan untuk kita terus melangkah ke level pengertian selanjutnya. Di level manakah kita sekarang? Ada level area respon kehidupan kita. Level pertama adala level reaktif. Pada area ini, orang akan menganggap dirinya sebagai korban saat hadapi masalah, menyalahkan orang lain, situasi dan Tuhan. Level kedua adalah level realistis, pada area ini orang menerima kenyataan, tetapi bersikap pasrah bahkan cenderung serba kuatir. Level area ketiga adalah level belajar, pada area ini orang akan mulai memberi makna baru terhadap kondisi yang dialami, dan dengan makna baru ini mereka jadi dapat bangkit dari persoalan yang dialami. Level area ke empat adalah area pertumbuhan (_growing_). Pada area ini mereka melihat _problem_ adalah sebuah kesempatan untuk tetap menjadi berkat bagi banyak orang, misalnya paska covid menjadi pendonor darah konvalesen, atau berkontribusi mendukung penderita covid dengan dukungan makanan, vitamin, dan sebagainya.
Jadi jika masih berada di level satu, dua dan tiga mari putuskan untuk melangkah ke level area selanjutnya. Anda mengerti? (HA)
Question:
1. Bagaimana keadaan Anda saat masa pandemi seperti sekarang ini?
2. Bagaimana Anda tetap bisa berbuah bagi Kerajaan- Nya di masa pandemi ini? Saksikan.
Values:
Seorang warga Kerajaan seharusnya mampu memaknai sebuah masalah menjadi jalan untuk pekabaran Kerajaan-Nya.
Kingdom Quote:
_Menaikkan level kualitas respon kita akan menentukan kekuatan kita menghadapi masalah._

02 September 2021

 King's Sword

Tanggal: 2 September 2021
Hari: Kamis

Bacaan Alkitab Setahun:
Luk 13:1-21
Maz 135-136


KEHIDUPAN YANG BERBUAH

“_Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku. Bapa-Ku akan dimuliakan dengan hal ini, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian, kamu
adalah murid-murid-Ku_.” Yohanes 15:8
Sebuah ungkapan mengatakan sebatang Pohon Jeruk bisa saja terlihat rindang dan indah, tetapi pohon jeruk belum mencapai tujuannya ditanam sebelum pohon jeruk itu menghasilkan buah yang baik dan dapat dinikmati banyak orang. Demikian pula dengan kehidupan kita, seringkali kita mengejar sebuah kesuksesan di dalam hidup ini. Kita mengukur sebuah kesuksesan dengan jumlah materi yang kita miliki, seberapa tinggi pendidikan yang sudah kita raih atau jabatan apa yang sudah kita sandang serta berbagai pencapaian-pencapaian lainnya. Saat kita mengejar sebuah kesuksesan kita tidak pernah merasa puas, sebab di atas sebuah pencapaian akan ada pencapaian- pencapaian lain yang lebih tinggi. Bukan berarti dalam hidup ini kita tidak boleh punya target atau ambisi sebab tanpa adanya sebuah tujuan kita akan menjalani hidup ini dengan sembarangan.
Rencana Tuhan dalam kehidupan kita adalah tidak hanya sebuah kesuksesan yang kita raih, tetapi Tuhan menginginkan sebuah kehidupan yang berbuah. Suatu ketika, sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka kata-Nya kepada pohon itu: "Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama- lamanya!" Dan murid-murid-Nyapun mendengarnya. (Markus 11:12-14).
Pohon ara merupakan sebuah pohon yang mampu beradaptasi dengan berbagai jenis tanah, bahkan bisa bertumbuh dengan baik di tanah yang berbatu-batu. Pohon Ara bisa bertumbuh mencapai tinggi 9 meter dan diameter batang mencapai 0,6 Meter. Daun dan buah pohon ara sangat bermanfaat bagi kehidupan di Timur Tengan pada zaman itu. Daun-daun pohon Ara banyak digunakan sebagai pembungkus makanan dan berbagai kegunaan lainnya. Daunnya yang lebat dan rindang menjadi tempat perteduhan bagi seseorang yang melalukan perjalanan jauh dan membutuhkan Istirahat sementara. Saat itu yang Tuhan cari adalah buahnya, Tuhan tidak memerlukan daun ara, sekalipun saat itu Tuhan pun ikut berteduh di bawahnya, tetapi Tuhan sedang mencari buah ara. Daun rimbun pada pohon ara seumpama penampilan memikat tetapi kosong, tanpa buah.
Demikian juga dengan kehidupan kita, Tuhan menginginkan hidup kita berbuah sepanjang waktu tanpa mengenal musim. Pastikan hidup kita menghasilkan buah yang bisa dilihat dan dinikmati banyak orang, sehingga keberadaan kita mendatangkan berkat bagi sesama. Orang lain bisa merasakan perbedaan ketika kita berada di antara mereka dan tentunya kita pun siap menyongsong kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Mungkin saja kita sangat aktif melayani dan melakukan aktifitas keagamaan tanpa lelah, tetapi apakah yang kita lakukan sudah selaras dengan tujuan dan rencana Tuhan dalam kehidupan kita.
Miliki keyakinan yang benar-benar kuat di dalam Tuhan, bukan hanya karena ikut-ikutan. Akar yang tertanam dengan dalam mampu menopang sebatang pohon besar. Demikian pula, keyakinan yang dalam akan menopang kita untuk tetap teguh saat menghadapi berbagai tantangan berat dan tetap berbuah lebat apapun musimnya. Amin (RSN)
Question:
1. Sudahkah hidup kita menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah?
2. Siapa saja yang merasakan buah-buah dari hidup kita?
Values:
Kehidupan kita harus menghasilkan buah yang bisa dilihat dan dinikmati banyak orang, sehingga keberadaan kita mendatangkan berkat bagi sesama.
Kingdom Quote:
Tuhan tidak sedang menantikan kehidupan kita yang hanya bertumbuh melainkan juga kehidupan yang berbuah.

01 September 2021

 *King's Sword*


* Tanggal: 1 September 2021*

Hari: Rabu


Bacaan Alkitab Setahun:
Luk 12:35-49
Maz 132-134

*FRUITFUL*

_"Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Yohanes 15:8_
Sebagian besar dari kita suka makan buah. Bahkan saya bersama keluarga membiasakan diri makan buah di pagi hari sebelum sarapan. Bagaimana dengan kebiasaan makan Anda di pagi hari? Betapa pentingnya makan buah bagi kesehatan kita. Namun TUHAN juga mau kita memiliki kehidupan yang berbuah. Tema renungan bulan September 2021 adalah _fruitful_. Kata _fruitful_ yang merupakan kata sifat dalam _Merriam Webster Dictionary_ memiliki arti: 1) _yielding or producting fruit_ (menghasilkan buah); 2) _abundantly productive_ (sangat produktif). Dalam arti sederhana kata _fruitful_ memiliki arti menghasilkan buah yang matang, banyak dan dapat dinikmati. Apakah kita mau menghasilkan buah yang matang? Apakah kita menghasilkan buah yang banyak secara berkala? Bagaimana mempersiapkan buah yang dapat dinikmati? Mari kita belajar memiliki hidup yang produktif dalam menghasilkan buah kehidupan.
*Yang pertama*, _menghasilkan buah yang matang_. Pada umumnya kita makan buah yang sudah matang. Memang ada pula yang makan buah yang belum matang, misalnya mangga muda yang bisa dibuat menjadi sambel pencit, hmm.. enaaak. Apakah menghasilkan buah yang matang itu mudah? Buah yang matang dihasilkan lewat proses yang membutuhkan waktu. Demikian pula kehidupan manusia juga membutuhkan proses waktu untuk menghasilkan buah yang matang. Perlu kesabaran dan ketekunan dalam menjalani proses kehidupan. Apakah ada jalan pintas dalam menghasilkan buah yang matang? Bagi sebagian pengusaha buah, mereka melakukan pengarbitan buah atau dengan suntikan kimia sehingga menghasilkan buah yang cepat matang, namun buah yang demikian beda kualitasnya dengan buah yang dihasilkan lewat proses alamiah. Demikian pula kehidupan manusia, buah kehidupan yang matang dihasilkan lewat proses kehidupan yang panjang. Apakah Anda mau menghasilkan buah yang matang?
*Yang kedua*, _menghasilkan buah yang banyak secara berkala_. Kapan waktu
terbaik
menghasilkan buah? Masing-masing buah menjadi matang dengan waktu yang berbeda. Demikian pula buah kehidupan membutuhkan tahapan proses kehidupan yang berbeda antara satu pribadi dengan lainnya. Menghasilkan buah yang banyak secara berkala membutuhkan kedisiplinan dan konsistensi yang tinggi. Apakah Anda mau menghasilkan buah yang banyak secara berkala?
*Yang ketiga*, _mempersiapkan buah yang dapat dinikmati_. Jalanilah proses demi proses kehidupan dengan sabar. Jangan pernah menyerah saat diproses. Ingat TUHAN selalu dan minta hikmat TUHAN saat diproses. Semua proses kehidupan ada batas waktunya. Proses kehidupan yang disikapi dan diresponi dengan benar akan menghasilkan buah kehidupan yang dapat dinikmati diri kita dan banyak orang. Apakah Anda mau menghasilkan buah yang dapat dinikmati? Memiliki kehidupan yang berbuah membutuhkan proses, jangan pernah menghakimi proses kehidupan yang dijalani orang lain. (DW)
Question:
1. Bagaimana cara kita menjadi dewasa di dalam Kristus?
2. Mengapa kita harus memiliki karakter, pola pikir dan sikap Kristus?
Values:
Seorang warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang mau menjadi dewasa di dalam Kristus.
Kingdom Quote:
_Dewasa di dalam Kristus adalah memiliki karakter, pola pikir dan sikap Kristus._

*King’s Sword* Tanggal: 17 November 2021 Hari: Rabu Bacaan Alkitab Setahun: Yoh 11:33-57 Yeh 5-7 Via Audio: https://youtu.be/5a-s8Mzbs80 h...