26 April 2021

APAKAH ORANG YANG BELUM DIBAPTIS ROH KUDUS BISA DIPAKAI OLEH TUHAN?

Pertanyaan perihal apakah orang yang belum dibaptis Roh Kudus bisa dipakai oleh Tuhan, selalu menjadi satu hal yang sangat menarik untuk dibahas. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita melihat sedikit dari sejarah gereja dari zaman post-apostolik ke zaman kontemporer. Siapa tidak tahu tentang:

  • Agustinus, seorang teolog besar di abad ke-4 Masehi, yang terkenal dengan kisah pertobatannya dan pemikirannya yang dalam.
  • Martin Luther, seorang reformator gereja yang menggoncang keadaan gereja yang kelam pada masanya.
  • John Wesley, seorang teolog di abad ke-18 yang menjadi pelopor Gereja Methodist dan terkenal dengan Gerakan Kesucian-nya (Holiness Movement).
  • Bunda Teresa, seorang biarawati Katolik Roma yang menggoncang dunia karena pelayanannya terhadap kaum papa yang terpinggirkan karena penyakit kusta, AIDS, dan TBC, dan bahkan dunia mengakui pelayanannya dengan menyematkan hadiah Nobel Perdamaian di tahun 1979.
  • Billy Graham, seorang penginjil dari Amerika Serikat yang saat mengadakan KKR dapat menghimpun jutaan orang. Bahkan beliau didapuk/didaulat sebagai salah satu pemimpin Kristen paling berpengaruh di abad ke-20 ini.

Tidak pernah tercatat di dalam sejarah bahwa para raksasa iman (spiritual giants) pada masanya itu mengalami pembaptisan Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa Roh. Dan mereka pun bisa dipakai Tuhan dengan sangat luar biasa. Meskipun begitu, sejujurnya, kita tidak benar-benar tahu dengan jelas apakah para raksasa iman di atas pernah mengalami pengalaman Baptisan Roh Kudus. Maka timbullah pertanyaan selanjutnya;

  • Mengapa seseorang perlu dibaptis dengan Roh Kudus?
  • Jika seseorang yang belum dibaptis Roh Kudus, atau mungkin pernah mengalami pembaptisan Roh Kudus, namun tidak secara nyata menunjukkannya seperti para tokoh di atas pun bisa dipakai Tuhan dengan dahsyat?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat sekilas perihal pengajaran tentang Baptisan Roh Kudus yang adalah ciri khas Teologi Pentakosta dan merupakan bagian sentral dari seluruh pengajaran doktrin Pentakosta.
Baptisan Roh Kudus adalah bagian penting dari 5 Pilar Teologi Pentakosta, atau yang sering kita dengar dengan istilah The Five-fold Gospel. Sebagai catatan, 5 Pilar Teologi Pentakosta yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Jesus as Savior (Keselamatan)
  2. Jesus as Sanctifier (Kekudusan)
  3. Jesus as Spirit Baptizer (Baptisan Roh Kudus)
  4. Jesus as Healer (Kesembuhan)
  5. Jesus as The Soon Coming King (Kedatangan Tuhan Yesus Kedua Kali)

Sinode Gereja Bethel Indonesia, yang beraliran Pentakosta, di mana gereja kita bernaung pun mengakuinya di dalam Pengakuan Iman Sinode GBI, bahwa:
“Baptisan Roh Kudus adalah karunia Tuhan untuk semua orang yang telah disucikan hatinya; tanda awal baptisan Roh Kudus adalah berkata-kata dengan bahasa Roh sebagaimana diilhamkan oleh Roh Kudus.”
Teologi Pentakosta menekankan bahwa pengalaman dibaptis dengan Roh Kudus adalah hal yang terpisah dari karya keselamatan Kristus; dan tujuannya adalah untuk penyelesaian Amanat Agung.
Kisah Para Rasul 1:8 mencatat:

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Kata “kuasa” pada ayat di atas berasal dari bahasa Yunani dunamis, di mana oleh Gingrich Greek NT Lexicon diterjemahkan juga sebagai dinamit, sesuatu yang memiliki daya ledak tinggi. Dengan kata lain, kuasa ini adalah kuasa yang sangat besar; di mana dengan kuasa ini, Amanat Agung Tuhan Yesus pasti terselesaikan.
Sangatlah menarik untuk disimak bahwa sesaat sebelum Tuhan Yesus terangkat ke sorga, Ia berpesan agar para murid tidak meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di sana sambil menantikan janji Bapa, yaitu bahwa para murid “akan dibaptis dengan Roh Kudus”. (Kisah Para Rasul 1:4,5)
Poin penting untuk kita garis bawahi di sini adalah bahwa baptisan Roh Kudus adalah janji Bapa yang berlaku untuk semua orang percaya. Selanjutnya di Kisah Para Rasul pasal ke-2 adalah peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas para rasul, yang lebih kita kenal dengan peristiwa Pentakosta, di mana para rasul “mulai berkata-kata dengan bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (Kisah Para Rasul 2:4)
Dari sini dapat kita lihat bahwa janji Bapa tentang Baptisan Roh Kudus selalu disertai dengan pengalaman karunia berbahasa Roh.
Dari peristiwa di atas, kita melihat dengan jelas bahwa ada perbedaan antara menerima Roh Kudus (keberdiaman/indwelling) dengan dipenuhi Roh Kudus atau dibaptis dengan Roh Kudus (kepenuhan/infilling).
Setiap orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka Roh Kudus berdiam di dalam dirinya. Bapa “memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” yaitu anugerah keselamatan. (II Korintus 1:22)
Rasul Paulus menjelaskan di dalam I Korintus 6:19,

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”

Keberdiaman Roh Kudus di dalam hidup orang percaya memampukan seseorang untuk memiliki hidup yang menghasilkan buah Roh. (Galatia 5:22-23) Alkitab mencatat dampak-dampak daripada Baptisan Roh Kudus secara internal, antara lain:

  1. Mengubah kehidupan doa kita. (Roma 8:26-27)
  2. Membangun iman kita. (I Korintus 14:4a)
  3. Menyempurnakan pujian dan penyembahan kita. (I Korintus 14:15)
  4. Meningkatkan kepekaan rohani kita. (I Korintus 14:2)

Robert P. Menzies, seorang hamba Tuhan, penulis, dan juga adalah Direktur dari The Asian Center for Pentecostal Theology, memaparkan di dalam salah satu bukunya yang berjudul “Speaking In Tongues” bahwa: “berbahasa Roh bukanlah salah satu tanda dari seseorang yang dewasa di dalam kekristenan”.
Kedewasaan Kristen sendiri dapat diukur dari suatu hidup yang menghasilkan buah Roh, di mana hal ini adalah juga bagian dari proses pengudusan/Sanctification. (Galatia 5:22-23)
Namun, seseorang yang telah dibaptis dengan Roh Kudus, selaras dengan pengertian dalam Teologi Pentakosta; akan memiliki kuasa untuk menyelesaikan Amanat Agung sesuai yang tertulis di dalam Kisah Para Rasul 1 dan 2. Dalam hal ini, kita melihat bahwa Baptisan Roh Kudus berfungsi secara eksternal.
Perlu dimengerti bahwa di satu sisi adalah mungkin bagi seseorang untuk mengalami kuasa Roh Kudus tanpa berbahasa Roh, namun hal ini bukanlah pengalaman Alkitab yang utuh; sebagaimana yang tertulis di Kisah Para Rasul 1 dan 2.
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa meskipun seseorang yang belum dibaptis Roh Kudus bisa dipakai Tuhan dengan dahsyat, namun pengalaman Baptisan Roh Kudus membuat orang percaya dapat melayani Tubuh Kristus dengan lebih maksimal.
Jikalau Alkitab menuliskan adanya pengalaman kepenuhan Roh Kudus dengan tanda awal berkata-kata dengan bahasa Roh, mengapakah kita tidak merindukannya? (WP)


 

🇰 🇮 🇳 🇬 '🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Tanggal: 26 April 2021
Hari: Senin

Bacaan Alkitab Setahun:
1 Kor 3
2 Sam 21-22


*BERSYUKUR ATAU BERSUNGUT*

“Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut.”Yohanes 6:43
Setiap orang memiliki sikap yang tak sama. Setiap orang memiliki respon yang berbeda dalam menghadapi masalah yang mereka hadapi. Setiap orang dapat mengalami pertentangan batin dalam kehidupan mereka saat menghadapi persoalan kehidupan yang tiba-tiba datang kepada mereka. Dalam hal yang sederhana, ada dua hal yang bertentangan dalam kehidupan ini, bersungut-sungut dan bersyukur. Mana yang anda pilih? Apa perbedaan nyata dari orang yang bersungut-sungut dan bersyukur?
Yang pertama, bersungut-sungut. Kata bersungut-sungut dalam KBBI memiliki arti mencomel/menggerutu. Wajah orang yang menggerutu tampak kecut dan tidak ceria karena ia kecewa terhadap peristiwa yang ia hadapi atau peristiwa yang dialami orang lain. Jadi orang yang bersungut-sungut sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan apa yang sedang ia hadapi. Orang yang bersungut-sungut juga dapat disebabkan karena ia turut peduli dengan penderitaan orang lain. Sepertinya hal ini baik jika kita merasa peduli dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh orang lain. Namun ini sikap yang tidak benar, karena saat kita bersungut-sungut sebenarnya kita tidak bisa mengubah keadaan orang lain, bahkan kita pun tidak dapat memberikan solusi kepada mereka. Bersungut-sungut adalah tanda orang yang tidak mengenal TUHAN. Bersungut-sungut adalah kehidupan orang yang mengandalkan diri sendiri. Bersungut-sungut adalah kehidupan orang egois dan tidak pernah puas. Ingatlah sikap bersungut-sungut dapat menular kepada orang yang memperhatikannya. Bagaimana dengan anda? Apakah anda masih sering bersungut-sungut?
Yang kedua, bersyukur. Kata bersyukur dalam KBBI memiliki arti berterima kasih/mengucapkan syukur. Sikap bersyukur ditandai dengan wajah yang ceria dan berseri-seri. Orang yang dapat bersyukur sedang menebarkan harapan dan sukacita di saat situasi sedang tidak baik. Bersyukur adalah tanda orang yang mengenal TUHAN. Orang yang dapat bersyukur sadar bahwa tidak semua hal dapat ia kendalikan, namun ia bertanggung jawab untuk mengendalikan respon hatinya. Orang yang bersyukur sadar bahwa ia tidak dapat mengubah masalah yang telah terjadi, namun ia percaya bahwa TUHAN sanggup mengubah masalah menjadi kesempatan melihat rencana TUHAN yang jauh lebih indah daripada rencananya sendiri. Orang yang mengenal TUHAN percaya bahwa segala sesuatu terjadi atas kontrol TUHAN. Bersyukur adalah gaya hidup dari orang yang mengandalkan TUHAN. Dengan bersyukur kepada TUHAN kita sedang menguatkan diri sendiri dan orang-orang yang melihat sikap kita. Bersyukur adalah kehidupan orang yang percaya dan berserah kepada TUHAN. Ingatlah bahwa sikap bersyukur dapat menular kepada orang di sekitar kita. Apakah anda memiliki gaya hidup bersyukur kepada TUHAN setiap hari? (DW)
Questions:
1. Apakah pandangan anda tentang orang yang 'BERSUNGUT-SUNGUT dan BERSYUKUR'?
2. Mengapa menjaga sikap hidup itu sangat penting?
Values :
Seorang warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang percaya bahwa selalu ada rencana Allah yang indah di balik setiap masalah yang ia hadapi.
*Dalam bersyukur ada kuasa TUHAN yang luar biasa.*

25 April 2021

 

🇰 🇮 🇳 🇬 '🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Tanggal: 25 April 2021
Hari: Minggu

Bacaan Alkitab Setahun:
1 Kor 2
2 Sam 19-20

*HADAPI PERTEMPURANMU!*

“TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Keluaran 14:14
Ayat ini memang banyak disalahgunakan sebagai alasan untuk hidup pasif dan berdoa secara salah, sebab mereka berharap bahwa hanya Tuhan yang melakukan semuanya dan kita tidak melakukan apa-apa. Ya, memang benar kalau bangsa Israel untuk suatu perintah secara spesifik mereka harus berdiam, sebab Tuhan yang akan berperang buat mereka. Tetapi dalam situasi lain, justru orang Israel harus berperang untuk merebut tanah Kanaan. Saya pikir bahwa orang Israel lebih banyak perangnya daripada menunggu saja.
Dalam Bilangan 1:1-16 Tuhan memberikan perintah kepada Musa, “Hitunglah jumlah segenap umat Israel menurut kaum-kaum yang ada dalam setiap suku mereka, dan catatlah nama semua laki-laki di Israel” (Bilangan 1:2). Jadi yang dihitung adalah mereka yang berusia di atas 20 tahun dan yang memiliki kesanggupan atau kesiapan untuk berperang. Jadi jelaslah sudah bahwa kelak bangsa Israel akan menghadapi banyak sekali ujian dan tantangan sebelum mencapai tanah perjanjian Tuhan. Jadi perjalanan bangsa Israel menuju ke Kanaan sangat berat. Saat berada di padang gurun banyak yang mati secara mengenaskan. Mereka mati bukan karena dibunuh oleh musuh, tetapi oleh karena ketidakpercayaan mereka sendiri.
Bukankah hidup itu ibarat peperangan dan pergumulan dengan berbagai situasi yang kita hadapi? Bukankah kita seringkali merasa hampir tidak kuat lagi dengan berbagai persoalan yang ada dalam hidup kita? Jangan meminta Tuhan yang "berperang" untuk kita. Mintalah Ia menyertai kita dalam medan peperangan. Mintalah kekuatan yang lebih besar. Mintalah mata iman yang lebih terbuka untuk melihat tangan Tuhan yang terulur memegang tangan kita. Mintalah tenaga yang ekstra kuat untuk memenangkan peperangan.
Tapi dengarlah suara-Nya. Kalau memang Dia berkata supaya kita diam, diamlah. Tetapi kalau tidak ada perintah itu, bergeraklah dan hadapi semuanya. Atau kalau tidak ada suara apapun juga, tetap bergeraklah. Terus bergerak. Hadapi pertempuranmu! Hadapi musuhmu! Hadapi persoalanmu sambil mata yang terus memandang kepada Tuhan yang sanggup memberikan kekuatan dan kemenangan buat kita. (DH)
Questions:
1. Apakah Tuhan selalu memerintahkan kita untuk diam saja dalam setiap peperangan kita? Mengapa?
2. Bagaimana jika Tuhan diam saat Anda dalam masa peperangan?
Values:
Jangan meminta Tuhan yang "berperang" untuk kita. Mintalah Ia menyertai kita dalam medan peperangan.
*Hidup adalah pertempuran yang tidak berakhir sampai Kristus datang yang kedua kali.*

24 April 2021

 

🇰 🇮 🇳 🇬 '🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Tanggal: 24 April 2021
Hari: Sabtu

Bacaan AlkitabSetahun:
1 Kor 1
2 Sam 16-18


*CADOS (KUDUS)*

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”Matius 5:8
Arti KHADOS atau KUDUS adalah dikhususkan atau dipisahkan atau dimurnikan atau disucikan. Mengapa kita harus dikhususkan? Karena Tuhan itu Kudus, Ia ingin hidup kita dikhususkan bagi-Nya. Hari ini banyak orang mengaku beribadah dan percaya kepada Tuhan, tetapi hatinya jauh dari Tuhan. Tanpa kekudusan (kemurnian hati) kita tak bisa datang kepada Tuhan. “Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” (Yesaya 29:13)
Kita telah kehilangan kepekaan, tak ada greget dan kerinduan akan kehadiran Tuhan. Hati umat manusia telah jauh dari Tuhan. Kesenangan duniawi dan hidup agamawi telah menghalangi kemampuan merasakan kehadiran Tuhan. Mata hati kita telah dibutakan. Hari-hari ini hidup dalam gelimang dosa dan kemunafikan adalah hal biasa. Tak ada lagi kesadaran bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian dan bahwa semua perbuatan harus dipertanggung jawabkan.
Semoga COVID menjadi alat bantu Tuhan untuk mengtriger dan mengingatkan kita bahwa kita telah kehilangan kekudusan. Ada penghalang di hati kita untuk bisa melihat dengan perspektif kekekalan. Penghalang itu bisa berupa pekerjaan, harta, hobi, bahkan pelayanan di rumah ibadah. COVID adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita betapa hati kita telah jauh dari Tuhan, kita lebih tertarik kepada hal yang kelihatan yang bersifat sementara daripada yang tak kelihatan yang bersifat kekal. Rasul Paulus dengan hatinya lebih memperhatikan yang tak kelihatan atau yang bersifat kekal. “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Korintus 4:18)
Seperti halnya penderita COVID yang harus diisolasi supaya tidak menularkan hal yang negatif. Kita seharusnya diisolasi, dikhususkan/dimurnikan motivasi hati dan tindakan kita, supaya kita bisa melihat dengan hati, hal-hal yang tidak kelihatan. Hal yang tak kelihatan adalah nilai baik di dalam kehidupan, seperti: Kasih , Kesabaran, Kejujuran, kemurahan , kesetiaan. Dan semua ini bersifat kekal. Sadari COVID telah dipakai Tuhan untuk mengarahkan kita supaya hidup kudus, hidup dengan motivasi hati yang murni. Amin (DD)
Questions:
1. Mengapa hati kita lebih tertarik memperhatikan yang kelihatan daripada yang kekal?
2. Apakah untungnya kita lebih tertarik kepada yang tak kelihatan? Bisakah kita tertarik kepada yang tak kelihatan?
Values:
Menjadi warga Kerajaan artinya melatih mata hati untuk dapat melihat yang bersifat kekal.
*Dengan mata jasmani kita dapat melihat yang kelihatan, tapi hanya dengan mata hati atau mata rohani kita bisa melihat yang kekal.*

23 April 2021

 

🇰 🇮 🇳 🇬 '🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Tanggal: 23 April 2021
Hari: Jumat

Bacaan Alkitab Setahun:
Rom 16
2 Sam 14-15


*TOXIC POSITIVITY*

“Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka.” Amsal 25:20
Di masa yang sukar seperti saat ini di mana wabah Covid-19 membawa dampak yang sangat luas terhadap kehidupan manusia, banyak sekali orang yang menderita berbagai-bagai kesusahan. Ada yang harus menderita sakit akibat terpapar Covid-19 bahkan sampai kehilangan nyawa, ada yang harus kehilangan pekerjaan dan penghasilannya, ada yang tidak dapat bertemu dengan keluarganya dalam waktu yang sangat lama, dan lain sebagainya.
Semua orang yang sedang menderita tentu sangat senang jika ada orang yang datang menghibur dan menguatkan, bahkan memberikan ayat-ayat pendukung dan mendoakan agar tetap bersemangat dan dapat bangkit kembali dari masalahnya. Namun ada kalanya kata-kata semangat itu justru terasa menyakitkan dan perih, bagaikan membuka baju di musim dingin, atau seperti tetesan cuka pada luka. Mungkin kata-katanya seperti memberikan dorongan bagi orang yang sedang menderita, namun dilakukan secara terus menerus tanpa disertai dengan pertimbangan, bahkan tanpa memberikan kesempatan untuk meluapkan perasaan si penderita. Dalam istilah populer situasi seperti itu sering disebut sebagai: toxic positivity.
Dalam pergaulan orang Kristen kita sering mendapati toxic positivity yang dibungkus dengan ayat-ayat firman Tuhan, yang pada pokoknya menyatakan bahwa kalau kita percaya Tuhan, kalau kita orang Kristen yang sejati, atau kalau kita jemaat yang berbakti, maka kita akan mengatasi segala penderitaan dan kesulitan yang ada. Namun kata-kata semangat itu diberikan oleh sesama kita, bahkan oleh para hamba Tuhan, dengan mengabaikan perasaan sesungguhnya dari kita yang sedang mengalami penderitaan dan kesulitan, sehingga seolah-olah kesedihan dan rasa duka yang kita alami adalah tidak penting bahkan dianggap sebagai suatu dosa oleh si pemberi semangat itu. Bukannya menjadi terhibur dan kuat malahan kita jadi terintimidasi karena takut dianggap kurang beriman, kurang percaya janji Tuhan, atau kurang rohani.
Saya justru kagum dengan Daud, seorang raja dan pahlawan yang gagah perkasa. Meskipun ia tidak pernah kalah perang, diurapi Nabi Samuel sejak muda, ditakuti musuh-musunya dan dipuja rakyat Israel, namun dalam Mazmur 22 Raja Daud secara jujur menyatakan kegundahan hatinya. Bayangkan seorang jagoan perang yang gagah perkasa berseru kepada Tuhan dalam keputusasaan. Ia merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan dan tidak menolong dia (Mazmur 22:1-2). Saya yakin ini adalah kejujuran pribadi Daud yang membuat hatinya yang hancur diperhitungkan Tuhan sebagai suatu korban yang menyenangkan (Mazmur 51:17).
Mari, belajarlah dari Raja Daud! Ketika sedang mengalami penderitaan dan kesulitan, datanglah pada Tuhan dengan hati yang jujur. Ungkapkanlah seluruh kegundahan dan kekuatiran kita kepada-Nya, sebab Ia mengerti bahasa tetesan air mata kita. Sebaliknya, ketika kita melihat orang lain yang sedang kesusahan dan menderita, janganlah berusaha menguatkannya dengan kata-kata semangat, bahkan dengan ayat-ayat firman Tuhan, tapi mengabaikan perasaannya. Cobalah untuk terlebih dulu menyelami kegundahan hatinya, dan selalu memberikan kesempatan untuk meluapkan perasaannya. Mengertilah bahwa ada saat untuk duduk bersama dalam diam dan tangisan tanpa kata-kata, sebab itu jauh lebih berarti dari pada ribuan kata-kata nasihat. Anda mengerti? (YMH)
Questions:
1. Masalah atau penderitaan apa yang paling hebat Anda rasakan selama masa wabah Covid-19?
2. Apakah ada orang lain yang datang menasihati dan menguatkan Anda dengan tepat?
Values:
Warga Kerajaan Allah yang sejati adalah warga yang jujur dalam mengungkapkan perasaannya kepada Sang Raja, dalam keadaan apapun juga.
*Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk merayap; ada waktu untuk menari. (Penghotbah 3:4*

*King’s Sword* Tanggal: 17 November 2021 Hari: Rabu Bacaan Alkitab Setahun: Yoh 11:33-57 Yeh 5-7 Via Audio: https://youtu.be/5a-s8Mzbs80 h...