13 November 2021

🇰 🇮 🇳 🇬 '🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩

Tanggal: 13 November 2021
Hari: Sabtu

Bacaan Alkitab Setahun:
Yoh 9:24-41
Rat 1-2

*JANGAN TAKUT dan GENTAR*

“Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar” (1 Petrus 3:13-14)
Setiap hari adalah peperangan rohani. Peperangan rohani bukan melawan daging atau manusia, namun melawan roh-roh jahat. Peperangan rohani dapat terjadi setiap saat. Setiap hari kita juga diperhadapkan untuk memilih dan memutuskan sesuatu. Mau tak mau kita harus memilih dan memutuskan sesuatu setiap hari. Setiap pilihan dan keputusan kita sangat memengaruhi kehidupan kita di masa kini dan masa depan. Oleh sebab itu kita memikirkan apa yang harus kita lakukan. Oleh sebab itu kita juga memikirkan apa alasan kita memilih dan memutuskan sesuatu. Ada satu hal yang sangat penting dalam kehidupan kita, yaitu jangan takut dan gentar. Bagaimana kita menjalani kehidupan tanpa takut dan gentar?
Yang pertama, tetap berbuat benar dan baik, 1 Ptr 3:13-14. Jangan berpikir negatif kepada orang lain. Jangan sekali-kali berpikir negatif tentang orang lain. Berpikir negatif tentang orang lain sebenarnya merugikan hati, pikiran, waktu dan tenaga kita. Mari kita belajar berpikir positif, benar dan baik tentang orang lain. Kita juga jangan suka menaruh rasa curiga kepada orang lain. Rasa curiga menyebabkan hati, mental dan pikiran kita menjadi rusak. Oleh sebab itu tetaplah berbuat benar dan baik dalam segala keadaan, inilah kehendak TUHAN bagi kehidupan kita. Mari jangan hidup dalam ketakutan dan kegentaran jika kita hidup benar dan baik di mata TUHAN. Mari kita tetap bersyukur sekalipun harus menderita. Penderitaan yang kita alami pasti ada masa kadaluarsanya. TUHAN turut bekerja sama dengan kita saat kita melakukan kebenaran dan kebaikan di dalam TUHAN.
Yang kedua, kuduskan TUHAN, 1 Ptr 3:15a. Hiduplah kudus dalam segala keadaan. Hidup kudus adalah prioritas kehidupan kita. Utamakan TUHAN setiap hari. Orang yang mengutamakan TUHAN adalah orang yang menyadari bahwa prioritas tertinggi kehidupannya adalah TUHAN. Yang ketiga, hidup bertanggung jawab, 1 Ptr 3:15b-16. Setiap tindakan yang kita lakukan adalah mengalir dari hati kita. Kita bertanggung jawab atas setiap tindakan yang kita lakukan. Mari kita miliki perkataan dan sikap yang lemah lembut dan penuh hormat kepada orang lain. Mari kita miliki hati nurani yang murni dan lurus setiap hari. Tetaplah menjaga kehidupan yang benar dan baik setiap hari. Tetaplah menjaga kehidupan dengan kesungguhan hati. Mari jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, namun membalas kejahatan dengan kebaikan. Orang yang hidup dalam kebenaran dan kebaikan akan memperoleh perlindungan dan pembelaan TUHAN. (DW)
Questions:
1. Mengapa kita harus hidup dalam kekudusan, kebenaran dan kebaikan di dalam TUHAN setiap hari?
2. Bagaimana kita menjalankan kehidupan yang tidak takut dan gentar dengan tantangan dan ancaman dunia?
Values:
Seorang Warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang mau hidup kudus di hadapan Allah dan manusia.
*Jangan hidup dalam ketakutan dan kegentaran jika Anda hidup benar dan baik di mata TUHAN.*

12 November 2021

 *King’s Sword*

Tanggal: 12 November 2021
Hari: Jumat

Bacaan Alkitab Setahun:

Yoh 9:1-23
Yer 51-52

*INGIN BERBUAT BANYAK TAPI ENGGAN MATI*

_“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”� (Yohanes 12:24)._
Bagi petani, mencari benih unggul dan menanamnya adalah cara yang paling lazim dilakukan untuk melipatgandakan hasil buah padi ataupun gandum.
Yesus memakai perumpamaan menanam gandum untuk mengajarkan prinsip pelipatgandaan kehidupan secara rohani. Dimulai dari dirinya yang ibarat benih gandum yang harus mati disalibkan dengan sukarela untuk bisa menghasilkan kualitas hidup surgawi di muka bumi. Ingat Yesus adalah benih unggul, benih kualitas surgawi.
Regenarasi dan pelipatgandaan memerlukan benih yang mati, tanpa kematian mungkin saja terjadi duplikasi, tetapi duplikasi palsu yaitu sekedar peniruan atau fotokopi yang hanya nampak sama pada sikap di luar. Ini hanya peniruan bukan regenerasi.
Seorang pemimpin rohani yang mengharapkan hasil 'buah yang banyak' atau regenerasi , harus siap 'mati' seperti biji gandum. Mati, yang artinya siap berkorban, yaitu rela menerima ketidaksempurnaan, rela meluangkan waktu dan mengajar. Rela untuk tidak populer, rela bekerja tanpa pamrih, rela untuk menjadi tak terkenal demi memberi kesempatan pada generasi yang baru.
Intinya adalah seorang pemimpin harus rela mengorbankan kepentingan diri sendiri demi orang yang dipimpin. Ia haruslah seorang yang 'sudah selesai' dengan dirinya sendiri. Agenda hidupnya hanya untuk orang lain. Dengan demikian ia akan secara alami rela dan ikhlas untuk mempersiapkan generasi baru sebagai penggantinya.
Dia akan dengan rela “lengser keprabon, madeg pandito” yang artinya tidak lagi memegang kekuasaan dan hanya jadi penasihat.
Sudah selesai dengan diri sendiri atau mati terhadap kepentingan diri sendiri (seperti benih gandum yang jatuh dan di tanam ke dalam tanah) sebenarnya sikap wajar yang diharuskan kepada semua orang yang percaya Kristus. Bukan hanya pemimpin Kristen formal. Sehingga seorang Kristen yang sudah mati bagi kepentingan diri sendiri, sebenarnya sudah menjadi seorang bapa rohani bagi orang-orang yang dilayaninya. Sebaliknya sekalipun seorang pemimpin di gereja atau seorang pendeta, jika ia belum selesai dengan dirinya sendiri, alias belum mati terhadap kepentingan diri sendiri, ia bukan seorang bapa rohani bagi siapapun.
Jadi jangan pernah berharap berbuah banyak jika kita tidak rela dan tidak siap untuk jadi benih yang mati. (DD)
Questions:
1. Apakah arti hikmat? Mengapa hikmat lebih bernilai dibanding emas dan permata?
2. Bagaimana seseorang dapat mempunyai hikmat?
Values:
Setiap warga kerajaan akan diproses di dalam hidupnya supaya mereka mengalami pemurnian dan menemukan hikmat Tuhan.
Kingdom Quote:
_Proses akan menghasilkan perubahan cara berpikir, lalu akan menghasilkan pengalaman baru, lalu menghasilkan pengetahuan baru atau hikmat yang baru._

 *King’s Sword*

Tanggal: 11 November 2021
Hari: Kamis

Bacaan Alkitab Setahun:
Yoh 8:30-59
Yer 50

*KETIKA SURAT ANCAMAN DATANG*

_Hizkia menerima surat dari tangan para utusan itu dan membacanya. Kemudian, dia pergi ke Bait TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN. Hizkia berdoa kepada TUHAN, katanya, “Ya TUHAN semesta alam, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim, Engkaulah, hanya Engkau, Allah atas seluruh kerajaan di bumi. Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi”� (AYT - Yesaya 37:14-16)._
Benarlah dikatakan bahwa respons awal akan menentukan akhir dari sebuah peperangan, kalah atau menang. Kalau respons kita buruk maka itu adalah kekalahan awal dari sebuah peperangan.
Saat Raja Hizkia menerima surat ancaman dari Sanherib, Raja Asyur, ternyata ia berespons dengan benar. Dikatakan bahwa dia pergi ke bait Tuhan serta membentangkan surat ancaman itu di hadapan Tuhan.
Dengan kata lain hizkia membawa masalahnya pertama kepada Tuhan. Ia tidak mencari yang lainnya namun hanya kepada Tuhan sebagai yang pertama dan utama. Sebab persoalannya itu terlalu besar untuk ditangani juga tidak ada temannya yang akan sanggup membantunya kecuali hanya Tuhan sendiri yang mampu.
Dan ketika ia berdoa kepada Tuhan maka kalimat pertama yang diucapkannya adalah menyerukan atau menyebutkan kemahakuasaan Tuhan, “_Ya TUHAN semesta alam, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim, Engkaulah, hanya Engkau, Allah atas seluruh kerajaan di bumi. Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi_” (ayat 16).
Hizkia memberikan pengakuan kepada Allah yang Maha Hebat itu atau Allah yang transenden. Pengakuan ini membuktikan kebenaran yang yang tak terbantahkan bahwa Allah itu memang Maha Kuasa. Sekaligus ia menguatkan dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa ada Allah yang Maha Kuasa yang menjadi andalannya.
Ini sama dengan yang dilakukan oleh jemaat mula-mula ketika mereka mendapatkan ancaman dari
orang Yahudi maupun pemuka agama saat itu. Mereka juga berdoa menyerukan dan mengakui Allah yang
transenden itu: “_Dan, ketika teman-temannya itu mendengarnya, mereka mengangkat suara mereka kepada Allah dengan sehati dan berkata, Ya Tuhan, Engkaulah yang telah menjadikan langit, bumi, laut, dan segala isinya_”� (AYT - Kisah Para Rasul 4:24).
Perhatikan seruan mereka mirip karena sama-sama menyebut serta menyerukan kemahakuasaan Tuhan yang menciptakan alam semesta ini dan yang menjadikan langit bumi langit dan segala isinya. Puji Tuhan! Allah yang transenden bersama dengan kita, namun bulan hanya transenden namun Ia juga Allah yang imanen, yaitu Allah yang sangat dekat dengan kita bahkan tinggal bersama dengan kita, juga mencintai kita dan memimpin kita sampai pada akhir zaman.
Dengan demikian kita bisa berkata bahwa kita adalah lebih daripada pemenang di dalam Kristus yang mengasihi kita. Segala masalah persoalan penderitaan apapun juga dapat kita lalui bersama dengan
Kristus. (DH)
Questions:
1. Mengapa respons yang benar itu penting manakala kita mendengar berita yang menakutkan?
2. Apa langkah berikutnya setelah kita berespons dengan benar?
Values:
Respons awal adalah penentuan langka kemenangan kita.
Kingdom Quote:
_Respons kita adalah kemenangan kita._

10 November 2021

🇰 🇮 🇳 🇬 '🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Tanggal: 10 November 2021
Hari: Rabu

Bacaan Alkitab Setahun:
Yoh 8:1-29
Yer 48-49

*SEMANGAT KEPAHLAWANAN*

“Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” (1Samuel 30:6)
Sesudah memproklamirkan kemerdekaannya, Indonesia tidak bisa santai berpangku tangan. Belanda yang baru saja merayakan kekalahan Jerman dan Jepang pada Perang Dunia ke-2, tidak mau membiarkan Indonesia menikmati kemerdekaannya. Dengan cara licik Belanda mengirimkan pasukan yang membonceng pasukan Sekutu masuk ke Indonesia dengan dalih akan melucuti tentara Jepang yang berada di Indonesia. Keberadaan pasukan Belanda (NICA) tersebut diketahui oleh rakyat dan pemerintah Indonesia karena Belanda berani melakukan penyerangan terhadap pemerintah Indonesia yang baru saja lahir. Agresi militer Belanda yang memboceng pasukan Sekutu tersebut mendapatkan perlawanan keras dari seluruh penjuru Indonesia, tak terkecuali dari kota Surabaya di Jawa Timur.
Pasukan Sekutu dan pasukan Belanda sempat mengultimatum warga kota Surabaya untuk menyerah pada tanggal 10 November 1945, jika tidak maka kota Surabaya akan mereka bumi hanguskan. Meskipun warga kota Surabaya kalah dalam kekuatan militer, namun semangat kepahlawanan merekja tidak berkurang sedikit pun. Salah satunya ketika seorang tokoh perjuangan yang disebut Bung Tomo, berpidato di hadapan warga Surabaya. Beliau berpidato dengan penuh semangat membara, dan meyakinkan warga Surabaya untuk tidak menyerah kepada penjajah, dan Allah selalu berada di pihak yang benar. Di ujung pidatonya beliau berkata: “Tuhan akan melindungi kita sekalian.” Tak pelak lagi semangat warga Surabaya langsung terbakar ketika beliau selesai berpidato. Kata-kata Bung Tomo seperti bensin bagi percikan api di hati warga Surabaya. Peperangan pun terjadi dan meskipun mengalami banyak korban jiwa namun warga Surabaya sudah berjuang habis-habisan untuk kemerdekaan mereka.
Dalam 1 Samuel 30 dikisahkan bagaimana perasaan Daud dan pasukannya ketika kota mereka, Ziklag, diserbu dan dijarah oleh bangsa Amalek. Begitu pedihnya keadaan mereka sampai Daud sang pahlawan pembunuh raksasa dan pasukannya menangis dengan nyaring sampai mereka tidak kuat lagi menangis. Jiwa mereka meratap, semangat pun luntur, yang ada hanya kesedihan dan kekecewaan, sampai-sampai pasukannya sendiri menjepit Daud dan ingin melemparinya dengan batu. Namun dalam saat stress dan depresi tersebut, Daud justru menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan. Ia meminta imam Abyatar membawa efod kepadanya. Akhirnya ia kembali bangkit dan berhasil mengorganisir pasukannya dan memulai penyerbuan balasan kepada bangsa Amalek. Di ayat 18-19 tercatat bahwa Daud berhasil menyelamatkan semua tawanan dan harta yang dirampas bangsa Amalek.
Wow! Ini adalah kisah semangat kepahlawanan yang luar biasa. From zero to hero. Dari stress dan depresi berubah menjadi bebas dan bahagia. Kuncinya bukan pada pidato yang luar biasa, bukan pada persenjataan yang canggih atau pun pasukan yang banyak, tapi semata-mata hanya kepercayaan kepada Tuhan dengan cara mencari Tuhan. Jika kita mencari Tuhan, maka rasa percaya diri kita akan bangkit lagi. Inilah semangat kepahlawanan yang sejati, yang hanya ada dalam Tuhan, satu-satunya sumber pengharapan yang teguh. Temukan semangat kepahlawananmu ketika Anda mencari Tuhan! Amin (YMH).
Questions:
1. Mengapa Daud dan pasukannya menangis begitu rupa dalam 1 Sam 30:4?
2. Bagaimana caranya kita memiliki semangat kepahlawanan seperti Daud?
Values:
Warga Kerajaan Allah yang sejati memiliki semangat kepahlawanan karena percaya kepada Rajanya.
*Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. (1 Samuel 30:6)*

09 November 2021

 *King’s Sword*

Tanggal: 9 November 2021
Hari: Selasa

Bacaan Alkitab Setahun:
Yoh 7:25-53
Yer 46-47

*TANPA PANDANG BULU*

_”Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.”_� (Mazmur 25:16)
Dalam sebuah cerita yang tertulis di internet, Sir Winston Churchill, mantan perdana menteri Inggris yang sangat terkenal pada masa Perang Dunia II pernah mengatakan, “I like pigs. _Dogs look up to us. Cats look down on us. Pigs treat us as equals_.”� Dalam Bahasa Indonesia “Saya suka Babi. Anjing melihat kita dengan memandang ke atas. Kucing melihat kita dengan melihat ke bawah. Babi memperlakukan kita sama dengannya.” Maksudnya, ternyata setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki cara berbeda ketika memperlakukan seseorang, bergantung dari pandangannya mengenai orang tersebut.
Dunia memperlakukan orang-orang dari golongan terpandang, kaum bangsawan dan jetset yang hampir memiliki segalanya di tempat-tempat istimewa, cenderung memandang rendah kaum miskin yang hanya memiliki diri mereka sendiri. Orang-orang dunia sering lupa untuk memandang semua orang sama.
Tuhan memiliki cara yang berbeda dalam memandang manusia. Tuhan mengajarkan untuk mengasihi semua orang, tanpa pandang bulu. Bahkan Alkitab menceritakan dengan jelas bahwa Hagar juga dikasihi TUHAN. Ketika ia tertindas dan melarikan diri, TUHAN yang mencari dia. Seringkali dalam pandangan kita, Hagar adalah seorang budak perempuan yang kemudian melahirkan Ismael dan keturunannya kemudian menjadi musuh bangsa Israel. Hagar digambarkan sebagai sosok yang hina, terbuang dan tertindas. Namun TUHAN tetap mengasihinya, dan memberikan kebaikan serta pertolongan baginya. TUHAN sendiri yang memperhatikan penderitaan Hagar dan menolongnya ketika ia kehausan dan Ismael hendak mati. TUHAN mengatakan, "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring." (Kejadian 21:17)
Seringkali kita merasa hina sebagaimana dunia memandang kita. Seringkali kita merasa terbuang sebagaimana otoritas agamawi memandang kita. Tetapi satu hal yang pasti - TUHAN mengasihi orang-orang yang terbuang. Dunia merendahkan orang yang tertindas, tetapi TUHAN tetap berbelas kasihan.
Demikian semestinya kita juga yang adalah anak-anak TUHAN, memperlakukan orang lain di sekeliling kita. Tanpa memandang bulu memberi kebaikan pada orang lain. Di saat yang tidak terduga terkadang kita dihadapkan pilihan untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan tepat di hadapan kita, dan di saat seperti itu apakah kita tetap akan memandang bulu? (JB)
Questions:
1. Menurut Anda, apakah Anda pernah menganggap remeh seseorang karena penampilan luarnya?
2. Bagaimanakah perasaan Anda jika ada orang menganggap hina karena penampilan luar Anda?
Values:
Warga Kerajaan adalah ciptaan yang mulia karena segambar dan serupa dengan Pencipta-Nya, itulah sebabnya Sang Raja tidak pernah memandang hina wargaNya.
Kingdom Quote:
_Nilai dari seseorang bukan terletak pada apa yang kelihatan diluar, tapi karakter yang tertanam dalam hidupnya._

08 November 2021

 

DITENTUKAN MENJADI SERUPA DENGAN GAMBARAN KRISTUS

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya
dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,
supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya.
Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.
Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Roma 8:29-30

Mungkin sebagian besar kita masih mengingat bahwa sewaktu kita kecil, orang tua kita mungkin pernah bertanya kepada kita, “Nanti kalau sudah besar, kamu mau jadi apa? Atau mau jadi seperti siapa?” Dengan pikiran yang polos biasanya dijawab, “Saya mau jadi Superman” atau “Saya mau jadi Presiden”. Secara tidak langsung, orang tua yang menanyakan hal tersebut kepada si anak, sedang mengajarkan keserupaan dengan seorang idola yang informasinya sering didengar oleh si anak.

Seiring berjalannya waktu, dengan perkembangan kognitif si anak, konsep keserupaan itu berubah menjadi konsep cita-cita. Kalimat “Saya mau jadi Superman” yang pernah diucapkannya sewaktu kecil mungkin tidak pernah terlontar lagi dari mulutnya, tetapi sekarang yang terlontar adalah “Saya bercita-cita ingin menjadi seperti Thomas Alva Edison yang menemukan lampu.” Tentu yang dimaksud si anak yang beranjak besar ini adalah bahwa ia ingin menjadi seorang penemu seperti seorang Thomas Alva Edison. Ia tidak mungkin menjadi Thomas Alva Edison, tapi ia dapat menjadi serupa dengan beliau dalam hal menjadi seorang penemu.

Seiring dengan makin dewasanya si anak, ia pun akan sadar bahwa menjadi seorang penemu bukanlah hal yang dapat terjadi dalam satu atau dua malam, melainkan butuh bertahun-tahun, seperti yang terjadi pada idolanya. Dalam hal ini, si anak telah masuk ke dalam suatu proses berpikir, bagaimana caranya untuk bisa menjadi seperti idolanya tersebut. Hal-hal apa saja yang harus dilakukan di dalam proses untuk mencapai tujuannya itu?

Ada 2 (dua) pelajaran penting dari analogi di atas sehubungan dengan konteks “Ditentukan Menjadi Serupa dengan Kristus”:

  1. Pemahaman yang Tidak Lengkap
    Saya DITENTUKAN oleh Tuhan untuk menjadi serupa dengan Kristus! Itu adalah bagian Tuhan yang menentukan, saya tidak perlu mengusahakan. Saya santai saja, toh keselamatan karena anugerah. Dan saya sudah percaya kepada Yesus; artinya saya sudah menjadi serupa dengan Kristus tanpa perlu berusaha apa-apa lagi. Ini adalah sebuah pemahaman yang keliru!
    Ditentukan Allah menjadi seperti Kristus tidak berhenti hanya sampai pada tahapan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi atau yang sering kita kenal dengan istilah JUSTIFICATION/PEMBENARAN.
    Memang benar Justification adalah 100% bagian Allah yang diberikan melalui kematian Tuhan Yesus Kristus bagi kita semua yang percaya. Di tahapan ini, benarlah adanya bahwa kita tidak diselamatkan karena perbuatan baik dan benar.
    Sebagaimana dinyatakan dalam Galatia 2:16a dan Roma 5:1, dapat kita lihat bahwa pembenaran adalah tindakan hukum Allah, di mana orang-orang berdosa diberikan status benar oleh karena imannya kepada Yesus Kristus.
    Adapun dasar dari pembenaran adalah kematian Kristus, dan pembenaran ini menjadi efektif karena iman di dalam Yesus Kristus. Peristiwa pembenaran ini terjadi sekali dan seketika itu juga menghasilkan pendamaian dengan Allah. Di titik inilah terjadi perubahan status dari ‘orang berdosa’ menjadi ‘anak Allah’. Namun, ditentukan menjadi serupa dengan Kristus tidak berhenti hanya sampai pembenaran saja, lebih dari itu, kita harus masuk kedalam tahapan berikutnya yaitu SANCTIFICATION/ PENGUDUSAN.
    Kembali kepada analogi di atas, saat anak beranjak dewasa, ia mulai berpikir; tidak mungkin bisa menjadi seorang penemu jika tidak melakukan apa-apa. Ia harus mempersiapkan dirinya.

  2. Menuntut Ketaatan Aktif secara Terus-menerus

    “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.”
    Roma 6:22

    Dari ayat tersebut di atas dapat kita lihat bahwa orang yang sudah dimerdekakan dari dosa (menerima pembenaran), orang tersebut harus masuk ke dalam proses pengudusan dengan menjadi hamba Allah. Proses pengudusan ini juga adalah titik dimulainya perjalanan rohani sebagai orang percaya. Di bagian inilah terjadinya perjuangan untuk mematikan kedagingan untuk semakin hari semakin menjadi serupa dengan Kristus, yaitu dengan cara menghasilkan buah Roh. (Galatia 5:22-23)
    Kita perlu mengingat bahwa Tuhan tidak membiarkan orang percaya berjalan di dalam proses pengudusan tanpa arahan. Ia memberikan kepada kita:
    1. Firman Tuhan
      Tuhan Yesus mengatakan:

      “Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepadamu.”
      Yohanes 15:3

      Di dalam doa-Nya kepada Bapa Ia berkata;

      “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, Firman-Mu adalah kebenaran”
      Yohanes 17:17

    2. Roh Kudus
      Roh Kudus bekerja lewat Firman-Nya dengan memberikan penerangan ke dalam hati sehingga impartasi kebenaran Firman Tuhan memampukan orang percaya untuk berjalan di dalam kekudusan. Pengudusan adalah hasil karya Roh Kudus yang ada di dalam kita dan secara sinergi bekerja sama dengan kerelaan kita untuk taat kepada perintah-Nya.
      Pekerjaan Roh Kudus dalam pengudusan sangatlah penting, namun tanpa respon orang percaya untuk mengerjakan bagiannya, pengudusan itu tidak akan terwujud.

Jadi, ditentukan menjadi seperti Kristus tidak hanya mencakup pada satu peristiwa orang berdosa menerima Yesus dan mendapat pembenaran, tetapi harus ada usaha aktif manusia untuk terus-menerus taat pada Firman Allah dan Roh Kudus sampai ia menjadi serupa dengan Kristus. (Roma 8:29) Hendaknya pembenaran itu dipandang sebagai suatu fondasi bagi proses pengudusan, di mana status sebagai orang benar memberikan orang percaya kuasa untuk terus berjalan di dalam proses pengudusan.

Arti 'ditentukan menjadi serupa dengan Kristus' juga tidak berhenti di Pengudusan. Karena tujuan akhir dari proses pengudusan adalah GLORIFICATION/PEMULIAAN orang percaya, titik di mana orang percaya akan mengalami pengangkatan dan menerima kuasa untuk memerintah bersama dengan Kristus, dan hidup yang kekal. (Wahyu 20:6)
Pemuliaan juga merupakan akhir dari perjalanan rohani orang percaya, di mana tubuh kemuliaan akan diberikan, dan dengan demikian, orang percaya dibebaskan dari kehadiran dosa.

Tuhan Yesus berfirman melalui penglihatan kepada Rasul Yohanes di pulau Patmos. Tujuh kali Ia berkata kepada jemaat-jemaat di Kitab Wahyu, “Barangsiapa menang…” Orang yang menang adalah orang percaya yang berhasil di dalam proses pengudusannya, dan akhirnya dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus.

Pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan adalah 3 (tiga) rangkaian tahapan keselamatan yang dianugerahkan Tuhan kepada semua orang percaya, yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dan melalui 3 tahapan inilah seseorang baru bisa menjadi seperti Kristus.
Oleh karena itu, ditentukan menjadi serupa dengan Kristus itu memiliki dua bagian: yaitu bagian Allah yang menyediakan sebagai provisi, dan bagian manusia memberikan respon terhadap anugerah tersebut. Respon itu adalah bagian dari mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar; dengan tujuan menjadi semakin serupa dengan Kristus. (Filipi 2:12)
Pada akhirnya, orang percaya akan dimuliakan bersama dengan Kristus.
Sudahkah kita sebagai orang percaya meresponi penentuan Allah menjadi serupa dengan Kristus ini dengan benar? (WP)

 *King’s Sword*

Tanggal: 8 November 2021
Hari: Senin

Bacaan Alkitab Setahun:
Yoh 7:1-24
Yer 43-44


*I TRUST YOU*

_”Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku”� (Mazmur 56:4-5)?_
Pernahkah Anda mengalami rasa takut? Apakah Anda pernah hidup dalam ketakutan? Sebenarnya setiap orang pernah mengalami rasa takut. Bahkan beberapa orang pernah hidup dalam ketakutan. Setiap orang pernah mengalami rasa kuatir. Setiap orang juga pernah mengalami rasa tidak percaya diri. Oleh sebab itu mari kita renungkan sejenak keberadaan diri kita masing-masing. Masalah apa yang sedang Anda hadapi sekarang?
Kita semua harus belajar mengenal TUHAN dengan benar. Apa yang dapat kita pelajari dari renungan hari ini?
*Yang pertama, pengalaman buruk*. Setiap orang pernah mengalami pengalaman buruk dalam hidupnya. Pengalaman buruk yang dialami setiap orang tidak sama. Ada orang yang tak bisa keluar dari pengalaman buruk dalam hidupnya. Orang seperti ini membutuhkan pertolongan orang lain dan TUHAN agar dapat keluar dari masalah kehidupannya. Ada orang yang tak mau keluar dari pengalaman buruk di masa lalunya. Hal ini ditandai dengan keengganannya untuk dilayani oleh psikolog, psikiater, konselor dan hamba TUHAN. Pengalaman buruk yang tidak segera diatasi akan menjadi masalah besar. Kita butuh kemauan kuat dan komitmen besar untuk keluar dari pengalaman buruk di masa lalu. Oleh sebab itu, jangan pernah biarkan iblis mengintimidasi Anda dan menakut-nakuti Anda. Iblis berusaha menarik perhatian Anda dan mengingatkan Anda akan pengalaman masa lalu Anda yang buruk. Isilah kehidupan Anda dengan kebenaran Firman TUHAN dan bergaullah dengan komunitas yang benar dan baik.
*Yang kedua, _I put my trust in you_.* Apapun masa lalu kita, percayalah kepada TUHAN. Sesungguhnya TUHAN tidak tertarik dengan masa lalu kita, TUHAN jauh lebih tertarik dengan hati dan kehidupan yang kita persembahkan kepada TUHAN. Percayalah kepada TUHAN dengan kesungguhan hati. Jangan buang waktu untuk percaya kepada tipuan dan hasutan iblis. Apapun masalah kita, tetap percaya kepada TUHAN. Tetaplah percaya kepada TUHAN dalam segala keadaan. Jangan mau digoyahkan dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi.
Apapun yang terjadi, percayakan hidup kita kepada TUHAN. Ingatlah TUHAN memegang kendali kehidupan kita. TUHAN sangat mengasihi orang yang hidupnya takut akan TUHAN. Gangguan bisa datang silih berganti, namun saat kita menaruh kepercayaan kita kepada TUHAN, maka TUHAN akan turut ambil bagian dalam menyelesaikan setiap masalah kita. (DW)
Questions:
1. Apakah masa lalu Anda masih menggangu Anda di masa kini?
2. Mengapa kita harus percaya kepada TUHAN?
Values:
Seorang Warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang mau hidup meninggalkan masa lalu dan hidup di masa kini.
Kingdom Quote:
_Saat kita percaya kepada TUHAN, artinya kita belajar mempercayakan hidup kita kepada TUHAN._

*King’s Sword* Tanggal: 17 November 2021 Hari: Rabu Bacaan Alkitab Setahun: Yoh 11:33-57 Yeh 5-7 Via Audio: https://youtu.be/5a-s8Mzbs80 h...